batampos – Pemadaman listrik total atau blackout melanda wilayah Tanjunguban dan Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan, Senin (12/10). Listrik yang padam sejak pagi hingga malam membuat aktivitas masyarakat terganggu. Warga terpaksa menggunakan lilin untuk penerangan, sementara sebagian lainnya harus berkeliling mencari sinyal telekomunikasi.
Gangguan pada sistem interkoneksi Batam-Bintan disebut menjadi penyebab pemadaman tersebut. Dampaknya tidak hanya membuat rumah-rumah gelap, tetapi juga mengganggu pasokan air bersih, jaringan komunikasi, hingga aktivitas usaha masyarakat.
Andi, salah seorang warga Tanjunguban, mengaku pemadaman listrik membuat aktivitas sehari-harinya semakin sulit. Apalagi, sebelumnya ia sudah menghadapi persoalan ketersediaan air bersih.
"Sudah air susah, sekarang listrik padam," keluhnya.
Meski listrik tak kunjung menyala, Andi tetap berusaha menjalankan usahanya. Ia terpaksa menggunakan lilin sebagai sumber penerangan agar tetap bisa melayani pelanggan.
"Jadi kembali kayak zaman dulu," katanya.
Sinyal Hilang, Warga Berburu WiFi
Pemadaman berkepanjangan juga berdampak pada jaringan telekomunikasi. Setelah beberapa jam listrik padam, sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan sinyal telepon maupun akses internet.
Agus, warga lainnya, mengatakan jaringan telekomunikasi di wilayahnya sempat tidak dapat digunakan.
"Sinyal lumpuh total gara-gara listrik," ujarnya.
Untuk tetap bisa berkomunikasi, Agus terpaksa berkeliling mencari kedai kopi yang menggunakan generator set (genset) dan menyediakan jaringan WiFi.
Kondisi serupa dialami Yani, warga Seri Kuala Lobam. Gangguan jaringan komunikasi membuatnya kesulitan mendapatkan informasi dari perusahaan tempatnya bekerja.
Ia mengaku belum menerima kepastian mengenai jadwal masuk kerja akibat terputusnya komunikasi.
Meski demikian, Yani memutuskan tetap berangkat bekerja karena tidak ingin mengambil risiko akibat ketidakjelasan informasi.
Berdasarkan pantauan di Tanjunguban pada malam hari, sejumlah warga terlihat mendatangi lokasi yang dianggap memiliki jangkauan sinyal lebih baik.
Salah satu lokasi yang menjadi tempat warga mencari sinyal adalah pelataran Masjid Baitul Makmur Tanjunguban.
Sejumlah Toko Terpaksa Tutup
Pemadaman listrik juga memukul aktivitas perdagangan dan usaha masyarakat.
Sejumlah toko ritel di Tanjunguban masih beroperasi dengan mengandalkan genset. Namun, tidak sedikit pelaku usaha yang memilih menutup tokonya karena tidak memiliki sumber listrik cadangan.
Dasir, warga Tanjunguban, menilai pemadaman berkepanjangan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari usaha harian.
Menurutnya, listrik merupakan kebutuhan utama untuk menjalankan berbagai aktivitas usaha.
Tanpa pasokan listrik, kegiatan perdagangan dan pelayanan kepada pelanggan menjadi terganggu.
Kondisi tersebut semakin memberatkan masyarakat karena belum ada kepastian kapan aliran listrik kembali normal.
PLN Belum Bisa Pastikan Listrik Menyala
Sementara itu, pihak PLN Tanjunguban membenarkan adanya gangguan pada sistem interkoneksi kelistrikan Batam-Bintan.
Seorang pegawai PLN Tanjunguban mengatakan gangguan tersebut menyebabkan pemadaman listrik secara luas.
"Sistem interkoneksi Batam-Bintan blackout. Kami lagi upayakan kondisi normal kembali," ujarnya.
Manajer PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Tanjunguban, Husni, juga membenarkan bahwa pihaknya masih menunggu pemulihan sistem interkoneksi dari Batam.
Namun, hingga Senin malam, PLN belum dapat memastikan estimasi waktu pemulihan pasokan listrik.
"Kita belum mendapat estimasinya, masih menunggu dari Batam," kata Husni.
Belum adanya kepastian pemulihan membuat masyarakat berharap gangguan segera teratasi.
Warga khawatir pemadaman yang berlangsung lebih lama akan semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama kebutuhan air bersih, komunikasi, dan kegiatan ekonomi. (*)