batampos – Upaya menekan angka pengangguran di Kepulauan Riau terus dilakukan di tengah tingginya pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui pembukaan Pelatihan Berbasis Kompetensi program barista dan instalasi listrik sederhana di BLK Batam, Jumat (10/4).
Program ini merupakan kolaborasi antara Polda Kepri, PT KT&G TSPM Indonesia melalui program CSR, serta LPK Bhakti Tidar Nusantara. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan menuju visi Indonesia Emas 2045.
Wakapolda Kepri Anom Wibowo yang mewakili Kapolda menyampaikan bahwa pelatihan ini dilatarbelakangi tingginya angka pengangguran di daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi.
“Kepri ini termasuk daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia, tetapi ironisnya angka pengangguran juga masih tinggi. Ini menjadi tantangan bersama,” ujarnya.
Kesenjangan Kompetensi Jadi Masalah
Menurut Anom, salah satu persoalan utama adalah ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja. Saat ini, industri lebih mengutamakan tenaga kerja yang memiliki sertifikasi.
“Kalau dulu cukup pengalaman kerja, sekarang tidak. Sertifikasi menjadi kunci,” katanya.
Ia juga menyinggung minimnya anggaran pelatihan pada 2025 akibat kebijakan efisiensi di sejumlah kementerian dan lembaga, yang berdampak pada terbatasnya program pelatihan di berbagai BLK.
“Karena itu, kolaborasi seperti ini menjadi solusi,” tambahnya.
Perlu Dukungan Banyak Pihak
Sementara itu, Direktur Bina Standarisasi Kompetensi Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan RI, Abdullah Gigi Asmara, mengapresiasi inisiatif tersebut.
Ia menyebut jumlah angkatan kerja terus bertambah setiap tahun, sementara kapasitas pelatihan masih terbatas.
“Tahun ini kami hanya mampu melatih sekitar 70 ribu peserta melalui APBN, sementara jumlah pengangguran mencapai jutaan,” ujarnya.
32 Peserta Ikuti Pelatihan
Direktur Utama LPK Bhakti Tidar Nusantara, Dwifung Wirajaya Saputra, menjelaskan pelatihan ini diikuti 32 peserta yang terbagi dalam dua program, masing-masing 16 orang untuk barista dan instalasi listrik.
Pelatihan barista berlangsung selama 18 hari, sementara instalasi listrik selama 26 hari.
“Setelah pelatihan, peserta akan mengikuti uji kompetensi dan mendapatkan tiga sertifikat, dari LPK, BLK, serta Badan Nasional Sertifikasi Profesi,” jelasnya.
Ia berharap program ini mampu meningkatkan keterampilan peserta sesuai standar industri, sehingga membuka peluang kerja maupun usaha mandiri.
Program ini menjadi langkah konkret dalam menjembatani kebutuhan industri dengan ketersediaan tenaga kerja terampil di Batam, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. (*)
Editor : Jamil Qasim