batampos – Kinerja ekspor Batam masih bertumpu pada sektor elektronik di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Data Badan Pusat Statistik mencatat, nilai ekspor Batam sepanjang Januari–Februari 2026 mencapai US$3,107 miliar. Secara kumulatif, angka ini turun 3,67 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Namun secara tahunan, ekspor Februari 2026 justru tumbuh 4,44 persen menjadi US$1,514 miliar.
Baca Juga: Tergerus Program Nasional, DBH Migas Anambas Anjlok Jadi Rp59 Miliar
Kepala BPS Batam, Eko Aprianto, mengatakan sektor industri manufaktur, khususnya elektronik, masih mendominasi ekspor.
“Golongan mesin dan peralatan listrik (HS 85) menjadi kontributor terbesar dengan nilai US$1,561 miliar atau lebih dari 52 persen dari total ekspor nonmigas,” ujarnya.
Produk yang diekspor meliputi perangkat komunikasi, komponen listrik, hingga perangkat digital. Hal ini menunjukkan ketergantungan Batam pada industri perakitan elektronik masih tinggi.
Dari sisi pasar, Amerika Serikat menjadi tujuan utama dengan nilai ekspor mencapai US$860,32 juta atau sekitar 27,69 persen dari total ekspor.
Baca Juga: 31 Hakim Terjerat Korupsi, KPK Dorong Reformasi Integritas
Di tengah kinerja ekspor yang relatif stabil, impor Batam justru mengalami peningkatan. Sepanjang dua bulan pertama 2026, nilai impor mencapai US$2,963 miliar atau naik 10,20 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Impor terbesar juga berasal dari kelompok mesin dan peralatan listrik dengan nilai US$1,271 miliar atau sekitar 43 persen dari total impor nonmigas.
Kondisi ini mencerminkan ketergantungan industri Batam terhadap bahan baku impor, termasuk chip dan semikonduktor.
Tiongkok tercatat sebagai pemasok utama dengan nilai impor mencapai US$1,450 miliar. Bahkan, impor dari negara tersebut pada Februari 2026 meningkat 23,94 persen secara tahunan.
Pelaku usaha menilai pelemahan rupiah memberi keuntungan bagi eksportir karena transaksi berbasis dolar meningkat. Namun, di sisi lain, biaya produksi ikut tertekan akibat mahalnya bahan baku impor.
Meski demikian, neraca perdagangan Batam masih mencatat surplus tipis sebesar US$143,67 juta.
Aktivitas ekspor Batam didominasi melalui Pelabuhan Batuampar dengan kontribusi sekitar 65 persen dari total ekspor. (*)
Editor : M Tahang