Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Pemerintah Kaji Insentif Baru untuk Genjot Manufaktur

Antara • Selasa, 5 Mei 2026 | 17:05 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita (ANTARA/HO-Kemenperin)
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita (ANTARA/HO-Kemenperin)

batampos — Pemerintah tengah mengkaji pemberian stimulus dan insentif baru guna mempercepat pertumbuhan sektor manufaktur sebagai motor utama ekonomi nasional. Langkah ini dibahas dalam pertemuan antara Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Selasa.

Agus menegaskan, sektor manufaktur memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan, pada 2025, pertumbuhan industri manufaktur tercatat melampaui pertumbuhan ekonomi nasional—sebuah capaian yang baru terjadi dalam 14 tahun terakhir.

“Kami membahas berbagai kebijakan dan langkah konkret, termasuk stimulus dan insentif, agar pertumbuhan manufaktur bisa lebih cepat dan berkelanjutan,” ujar Agus usai pertemuan di Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,30 persen pada 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Angka ini memperkuat posisi manufaktur sebagai sektor kunci dalam struktur ekonomi nasional.

Meski demikian, pemerintah menilai masih terdapat sejumlah hambatan di lapangan yang perlu segera diatasi, mulai dari efisiensi produksi hingga dukungan kebijakan. Untuk itu, koordinasi lintas kementerian diperkuat guna mencari solusi yang tepat bagi pelaku industri.

Agus juga mengapresiasi inisiatif Kementerian Keuangan yang membentuk tim “bottlenecking” untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai kendala yang dihadapi dunia usaha.

Selain penguatan pasar domestik, pemerintah turut mendorong peningkatan ekspor produk manufaktur. Saat ini, sekitar 75 hingga 80 persen ekspor Indonesia berasal dari sektor manufaktur, namun sebagian besar produksinya masih diserap pasar dalam negeri.

Kondisi tersebut berbeda dengan negara-negara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang memiliki orientasi ekspor manufaktur lebih kuat.

Pemerintah menargetkan peningkatan porsi ekspor tanpa mengorbankan kebutuhan pasar domestik. Strategi ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri nasional di pasar global sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.

“Kami ingin meningkatkan ekspor produk manufaktur, namun tetap menjaga keseimbangan agar pasar domestik tetap kuat,” kata Agus.

Dengan kombinasi insentif, reformasi kebijakan, dan strategi ekspor, pemerintah optimistis sektor manufaktur dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

(*)

Editor : Putut Ariyotejo
#manufaktur Indonesia #Agus Gumiwang #Purbaya Yudhi Sadewa #BPS Indonesia #Kemenkeu