Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Honda Rugi untuk Pertama Kalinya dalam 70 Tahun, Strategi EV Dievaluasi

jpg • Sabtu, 16 Mei 2026 | 10:01 WIB
Industri otomotif global kembali diguncang perubahan arah strategi elektrifikasi setelah Honda Motor mencatatkan kerugian tahunan pertamanya.
Industri otomotif global kembali diguncang perubahan arah strategi elektrifikasi setelah Honda Motor mencatatkan kerugian tahunan pertamanya.

batampos - Honda Motor Company kembali menjadi sorotan setelah mencatat kerugian tahunan pertamanya sejak melantai di bursa saham hampir 70 tahun lalu. Tekanan besar dari restrukturisasi bisnis kendaraan listrik (EV) memaksa produsen otomotif asal Jepang itu mengubah arah strategi elektrifikasinya.

Perubahan tersebut sekaligus menandai dinamika baru di industri otomotif global, di mana sejumlah produsen mulai mengevaluasi kembali kecepatan transisi menuju kendaraan listrik penuh.

Dilansir dari Reuters, Jumat (15/5/2026), Honda membukukan kerugian operasional sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar Rp45,8 triliun pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret 2026.

Selain itu, total kerugian terkait bisnis kendaraan listrik disebut mencapai 1,45 triliun yen atau sekitar Rp160,5 triliun, menjadikannya salah satu beban terbesar dalam sejarah perusahaan.

Dalam laporan The Autopian, Honda resmi menghentikan target jangka panjang yang sebelumnya menargetkan kendaraan listrik menyumbang 20 persen penjualan mobil baru pada 2030.

Perusahaan juga membatalkan rencana transisi penuh ke kendaraan listrik pada 2040.

CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengonfirmasi penundaan besar strategi ekspansi EV, termasuk penghentian sementara proyek kendaraan listrik di Kanada senilai 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp193,6 triliun.

Sebagai gantinya, Honda kini mengalihkan fokus lebih besar pada kendaraan hybrid sebagai jembatan menuju target netralitas karbon pada 2050.

Langkah tersebut dinilai sebagai koreksi terhadap strategi elektrifikasi yang sebelumnya dianggap terlalu agresif di tengah permintaan pasar yang belum sepenuhnya stabil.

Meski mencatat kerugian besar, pasar justru merespons positif langkah Honda. Saham perusahaan sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir sebelum ditutup menguat 3,8 persen.

Kenaikan itu didorong komitmen Honda untuk mengembalikan nilai kepada pemegang saham sebesar 800 miliar yen dalam tiga tahun tanpa memangkas dividen.

Analis mobilitas dari Macquarie Group, James Hong, menilai persoalan utama Honda bukan hanya soal kerugian finansial, tetapi lambatnya eksekusi strategi menghadapi perubahan pasar kendaraan listrik global.

“Secara keseluruhan, pelaksanaannya sangat lambat,” ujarnya.

Di tengah tekanan bisnis mobil listrik, Honda masih ditopang penjualan sepeda motor yang kuat, terutama di India dan Brasil yang mencatat rekor penjualan dan laba operasional.

Namun, kenaikan biaya bahan baku serta perubahan industri otomotif di pasar berkembang mulai menggerus margin keuntungan segmen tersebut.

Untuk tahun fiskal berjalan, Honda menargetkan kembali mencetak laba operasional sekitar 500 miliar yen melalui efisiensi biaya dan penguatan bisnis sepeda motor.

Meski demikian, risiko eksternal seperti harga material dan ketegangan geopolitik masih menjadi tantangan besar.

Perubahan strategi Honda menegaskan bahwa transisi menuju kendaraan listrik bukan proses yang berjalan lurus. Di tengah persaingan dengan pemain global seperti Tesla, Toyota Motor Corporation, dan Volkswagen, keseimbangan antara inovasi, permintaan pasar, dan profitabilitas kini menjadi pertarungan utama industri otomotif dunia. (*)

Editor : Jamil Qasim
#merugi #honda #saham