batampos – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) diperkirakan tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga mulai memberi tekanan terhadap pengembang properti di Kota Batam.
Pengamat ekonomi sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam, Suyono Saputra, menilai dalam enam hingga sembilan bulan ke depan banyak developer kemungkinan akan menahan ekspansi proyek baru karena meningkatnya biaya konstruksi dan bunga kredit.
“Developer banyak memakai kredit konstruksi dengan bunga floating. Ketika bunga naik 50 bps, margin mereka bisa terpotong satu sampai dua persen,” kata Suyono kepada Batam Pos, Senin (25/5).
Selain tekanan bunga kredit, perlambatan penjualan rumah juga membuat pengembang cenderung memilih menghabiskan stok rumah yang sudah tersedia dibanding meluncurkan proyek baru.
Baca Juga: Alfa Romeo Konfirmasi Giulia dan Stelvio Baru, Versi Quadrifoglio Tetap Dipertahankan
Menurut dia, kondisi pasar properti Batam saat ini juga menghadapi tantangan berupa oversupply rumah di kisaran harga Rp300 juta hingga Rp600 juta. Di sisi lain, daya beli masyarakat lokal dinilai mulai melemah akibat tekanan ekonomi.
“Kalau hanya mengandalkan pembeli lokal, pasar properti Batam bisa semakin berat,” ujarnya.
Suyono juga melihat sebagian investor mulai mengalihkan dana ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman dan stabil seperti deposito maupun Surat Berharga Negara (SBN) ritel.
“Dengan return 5,5 sampai 6 persen, banyak investor mungkin berpikir lebih aman parkir dana di deposito atau SBN dibanding masuk properti yang pasarnya sedang melambat,” katanya.
Meski demikian, ia menilai segmen properti menengah atas di Batam masih relatif kuat menghadapi tekanan suku bunga tinggi. Menurutnya, konsumen premium termasuk pembeli dari luar daerah masih memiliki daya beli yang cukup baik.
Di tengah tekanan pasar, Batam dinilai tetap memiliki daya tarik karena ditopang pertumbuhan industri, investasi, dan status kawasan perdagangan bebas.
Namun, Suyono mengingatkan adanya tantangan tambahan berupa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berpotensi meningkatkan harga material bangunan dan biaya konstruksi.
“Kalau rupiah melemah, material bangunan bisa ikut naik. Ini akan semakin menekan developer,” ujarnya.
Agar sektor properti tidak semakin tertekan, Suyono meminta pemerintah daerah dan BP Batam mempercepat proses perizinan serta memangkas biaya transaksi properti.
Baca Juga: The Sims Project Rene Diduga Bocor. Fans Khawatir Franchise Makin Mirip Gim Mobile
Menurut dia, percepatan penerbitan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan pengurangan biaya transaksi dapat membantu mengimbangi dampak kenaikan bunga kredit.
“Kalau biaya transaksi bisa dipotong dua sampai tiga persen, itu sudah cukup membantu menutup dampak kenaikan bunga 50 bps,” katanya.
Ia juga mendorong pengembang menghadirkan skema pembayaran yang lebih fleksibel seperti cicilan uang muka hingga 24 bulan, subsidi bunga tahun pertama, hingga konsep buy now pay later.
“Developer harus cepat beradaptasi. Pasar sekarang tidak cukup hanya jual rumah, tapi juga harus jual kemudahan,” ujarnya.
Selain itu, Suyono menilai program rumah khusus pekerja dengan uang muka ringan dan tenor panjang perlu diperluas untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan suku bunga.
Ia optimistis pasar properti Batam masih memiliki peluang bertahan apabila pemerintah, perbankan, dan developer mampu bergerak cepat menyesuaikan strategi dengan kondisi ekonomi saat ini.
Editor : Putut Ariyo