Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

BPS: Pola Konsumsi Masyarakat Indonesia Bergeser ke Pengalaman dan Wisata

Antara • Selasa, 26 Mei 2026 | 21:36 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan paparan mengenai perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia dalam forum diskusi ekonomi di Jakarta, Selasa (27/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan paparan mengenai perubahan pola konsumsi masyarakat Indonesia dalam forum diskusi ekonomi di Jakarta, Selasa (27/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda)

batampos - Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan pola konsumsi masyarakat Indonesia mulai bergeser ke konsumsi berbasis pengalaman atau experience, seperti transportasi, restoran, hotel, hingga perjalanan wisata.

“Ini menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat kita sudah lebih cenderung mengonsumsi yang lebih ke experience dibandingkan belanja baju,” kata Amalia di Jakarta, Selasa (26/5).

Menurut dia, perubahan tersebut terlihat dari komponen konsumsi rumah tangga pada Triwulan I-2026, ketika pertumbuhan tertinggi tidak lagi berasal dari sektor pakaian dan alas kaki, melainkan transportasi serta restoran dan hotel.

Amalia menjelaskan mobilitas masyarakat selama periode Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah turut mendorong perubahan pola konsumsi tersebut.

BPS mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 13,14 persen secara tahunan pada Triwulan I-2026.

Baca Juga:  Pemkab Bintan Buka Beasiswa Dokter Spesialis 2026

Ia menjelaskan pengukuran wisatawan nusantara kini dilakukan menggunakan mobile positioning data hasil kerja sama dengan tiga operator telekomunikasi, yakni Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat Ooredoo Hutchison.

Metode tersebut merekam pergerakan masyarakat antardaerah tanpa membuka identitas individu.

“Kami mengukur wisatawan nusantara itu bukan dengan survei, tetapi dengan bagaimana mereka melakukan mobilitas yang terekam dari mobile positioning data,” ujarnya.

Selain pola perjalanan, perubahan perilaku konsumsi juga terlihat dari semakin meningkatnya transaksi digital masyarakat.

BPS mencatat transaksi perdagangan melalui sistem elektronik tumbuh 27,8 persen secara tahunan dan naik 6,19 persen secara kuartalan pada Triwulan I-2026.

Sementara itu, transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) meningkat signifikan hingga 111,94 persen secara tahunan.

Menurut Amalia, perubahan pola konsumsi dan transaksi tersebut dipengaruhi dominasi generasi muda dalam struktur penduduk Indonesia.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus yang dirilis BPS pada 5 Mei 2026, generasi milenial dan Generasi Z mencapai hampir 49 persen dari total penduduk Indonesia.

Baca Juga: Komen Golkar tentang Lagu MBG Mas Bahlil Ganteng

Jika ditambah kelompok post-Gen Z yang berusia di bawah 12 tahun sebesar 19,65 persen, maka sekitar 68 persen penduduk Indonesia berasal dari kelompok usia muda.

“Inilah yang menyebabkan pola konsumsi masyarakat kita sudah berubah tidak seperti zaman dulu,” kata Amalia.

Ia menilai perubahan tersebut penting dipahami pelaku usaha maupun pembuat kebijakan karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. (*)

Editor : Putut Ariyo
#Konsumsi Masyarakat #Wisata Nusantara #ekonomi indonesia #bps #qris