batampos – Sejumlah peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, membagikan satu juta butir telur secara gratis kepada masyarakat sebagai bentuk protes terhadap anjloknya harga telur di tingkat peternak.
Aksi yang digelar di Alun-alun Kanigoro, Senin (1/6), itu mendapat sambutan antusias dari warga. Ribuan masyarakat datang untuk mendapatkan telur gratis yang telah dikemas dalam plastik mika. Bahkan, sebagian warga membawa wadah sendiri dari rumah untuk menampung telur yang dibagikan.
Koordinator aksi peternak rakyat, Suyanto, mengatakan harga telur saat ini berada pada level yang sangat merugikan peternak.
Menurutnya, harga telur di tingkat peternak hanya berkisar Rp20.600 hingga Rp21.000 per kilogram, sementara harga pokok produksi (HPP) mencapai sekitar Rp23.000 per kilogram.
“Harga telur kami terjun bebas. Artinya, setiap kilogram kami mengalami kerugian sekitar Rp2.000,” ujarnya.
Peternak Tertekan Kenaikan Harga Pakan
Selain harga jual yang terus menurun, peternak juga menghadapi kenaikan biaya produksi, terutama harga pakan ternak.
Suyanto menjelaskan, harga pakan yang sebelumnya berada di kisaran Rp370 ribu per sak kini naik menjadi Rp400 ribu hingga Rp420 ribu per sak.
Kondisi tersebut membuat margin usaha peternak semakin tertekan karena kenaikan biaya produksi tidak diimbangi dengan harga jual telur yang memadai.
“Biaya produksi terus naik, sementara harga telur justru turun. Situasi ini sangat memberatkan peternak kecil,” katanya.
Peternak Rakyat Minta Intervensi Pemerintah
Suyanto menegaskan aksi tersebut merupakan suara peternak rakyat skala mikro dan kecil dari sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Kabupaten Blitar, Tulungagung, Kediri, hingga Trenggalek.
Menurutnya, kondisi peternak rakyat berbeda dengan perusahaan peternakan besar yang masih memiliki cadangan modal dan stok pakan dalam jumlah besar.
Sebagian besar peternak kecil masih mengandalkan hasil penjualan telur harian untuk membeli kebutuhan pakan pada hari berikutnya. Karena itu, penurunan harga yang berlangsung dalam waktu lama berpotensi mengancam keberlangsungan usaha mereka.
“Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menata harga telur agar peternak rakyat tetap bisa bertahan,” ujarnya.
Soroti Wacana Masuknya Investor Asing
Selain persoalan harga, peternak juga menyampaikan kekhawatiran terkait wacana masuknya investor asing ke sektor peternakan ayam petelur.
Mereka menilai kehadiran investor besar berpotensi meningkatkan persaingan dan semakin mempersempit ruang usaha peternak rakyat.
“Kami khawatir peternak kecil akan semakin tersisih jika investor besar masuk dan menguasai pasar,” kata Suyanto.
Meski demikian, peternak mengapresiasi dukungan pemerintah daerah melalui dinas peternakan yang selama ini membantu akses jagung program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui Bulog.
Pemerintah daerah juga dinilai aktif memfasilitasi berbagai upaya perluasan pasar, termasuk membuka peluang pemasaran telur ke luar daerah dan luar pulau.
Namun, peternak berharap pemerintah pusat segera turun tangan untuk menstabilkan harga telur agar usaha peternakan rakyat tetap berkelanjutan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. (*)
Editor : Putut Ariyo