Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

ASITA Kepri: Kebijakan Bebas Visa Bisa Dongkrak Wisatawan Mancanegara ke Batam dan Bintan

Rengga Yuliandra • Jumat, 5 Juni 2026 | 22:02 WIB
ILUSTRASI turis berbelanja di Batam. PHRI menyebut tingkat hunian hotel masih cukup stabil di awal tahun. Foto: chatgpt
ILUSTRASI turis berbelanja di Batam.  Foto: chatgpt

batampos – Rencana Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengusulkan kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) bagi delapan negara dan satu wilayah administratif disambut positif oleh pelaku industri pariwisata di Kepulauan Riau (Kepri).

Ketua ASITA Kepri, Eva Betty, menilai kebijakan tersebut dapat menjadi momentum penting untuk mendorong pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri, khususnya Batam dan Bintan yang selama ini menjadi pintu masuk utama wisatawan asing ke Indonesia.

Negara dan wilayah yang diusulkan memperoleh fasilitas bebas visa meliputi Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, India, Belarusia, Kazakhstan, Makau, serta perluasan fasilitas bagi pemegang Permanent Resident (PR) Singapura.

“Pastinya ASITA sangat berterima kasih kalau ini sampai terlaksana. Kami menganggap ini peluang yang sangat menguntungkan bagi travel-travel di Kepri, khususnya anggota ASITA. Ini yang ditunggu-tunggu selama ini, bebas visa untuk negara-negara favorit, khususnya Asia seperti Jepang, Korea, India, China, dan Australia,” kata Eva, Jumat (5/6).

Menurutnya, Kepri berpotensi menjadi salah satu daerah yang paling diuntungkan jika kebijakan tersebut direalisasikan. Letak geografis yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia membuat Kepri memiliki akses internasional yang mudah dijangkau wisatawan mancanegara.

“Kepri bisa kembali memimpin pariwisata Indonesia karena kita memiliki akses masuk wisatawan yang paling mudah. Harapan kami kebijakan ini segera terlaksana sehingga mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri,” ujarnya.

 

Hambatan Visa Selama Ini Dinilai Membatasi Pasar

Eva menjelaskan, pasar wisatawan dari Jepang, Korea Selatan, India, dan Australia memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Namun, selama ini pertumbuhan kunjungan dinilai belum optimal karena masih adanya hambatan administratif, termasuk proses pengurusan visa.

Dengan adanya fasilitas bebas visa, pelaku industri perjalanan optimistis dapat memperluas pemasaran sekaligus meningkatkan daya saing destinasi wisata di Kepri.

“Pastinya paket-paket wisata sudah sangat siap. Tinggal bagaimana akses masuknya dipermudah,” katanya.

Menurut Eva, pelaku usaha wisata di Kepri telah menyiapkan berbagai paket wisata yang disesuaikan dengan karakter dan preferensi wisatawan dari masing-masing negara.

 

Golf hingga Wisata Rekreasi Jadi Andalan

Wisatawan asal Australia, Jepang, dan Korea Selatan umumnya memiliki minat tinggi terhadap sport tourism, khususnya wisata golf.

Kepri dinilai memiliki keunggulan pada segmen tersebut karena memiliki sejumlah lapangan golf bertaraf internasional yang tersebar di Batam dan Bintan.

Sementara itu, wisatawan asal India dan China lebih banyak mencari pengalaman leisure tourism atau wisata rekreasi yang mencakup pantai, kuliner, hiburan, hingga wisata keluarga.

“Kalau Australia, Jepang, dan Korea lebih minat sport tourism seperti golf. Sedangkan India dan China lebih ke leisure,” jelas Eva.

Selain menjadi destinasi utama, Batam juga diperkirakan tetap memainkan peran penting sebagai gerbang masuk wisatawan menuju berbagai destinasi lain di Kepri, terutama Bintan yang dikenal dengan kawasan resor internasional dan wisata baharinya.

 

Kunjungan Wisman Diprediksi Naik Signifikan

ASITA Kepri memperkirakan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kepri pada 2026 akan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Eva menyebutkan, tanpa kebijakan bebas visa sekalipun, kunjungan wisatawan diperkirakan bertambah sekitar 13 ribu hingga 15 ribu orang dibandingkan 2025.

Namun apabila kebijakan bebas visa benar-benar diterapkan, pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara diprediksi dapat melonjak hingga 35 persen.

“Peningkatan kunjungan pastinya tahun 2026 lebih tinggi dibandingkan 2025, bisa bertambah sekitar 13 ribu sampai 15 ribu wisatawan. Apalagi kalau bebas visa ini benar-benar terlaksana, kenaikannya bisa mencapai 35 persen,” ujarnya.

Pelaku industri pariwisata berharap pemerintah pusat segera merealisasikan kebijakan tersebut agar momentum pemulihan dan pertumbuhan sektor pariwisata dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh daerah perbatasan seperti Kepulauan Riau yang selama ini menjadi salah satu gerbang utama masuknya wisatawan mancanegara ke Indonesia. (*)

Editor : Putut Ariyo
#Batam Bintan #wisatawan mancanegara #asita kepri #bebas visa #pariwisata kepri