batampos — Inflasi di Kepulauan Riau (Kepri) pada Mei 2026 tercatat melandai menjadi 0,38 persen month-to-month (mtm), turun dibandingkan April 2026 yang mencapai 0,43 persen. Hal ini disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kepri, Rony Widijarto, dalam keterangan resmi di Batam, Jumat (5/6).
Rony menjelaskan, tekanan inflasi Mei terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 1,27 persen (mtm) dengan andil 0,37 persen. Kenaikan harga cabai merah, tomat, sawi hijau, dan ketimun terjadi seiring berakhirnya panen raya di Sumatera bagian utara.
Secara tahunan, inflasi Kepri mencapai 3,92 persen year-on-year (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,08 persen. Angka tersebut menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi keempat di Sumatera, setelah Aceh (5,12 persen yoy), Sumatera Utara (4,35 persen yoy), dan Riau (3,95 persen yoy).
Selain pangan, kelompok transportasi juga mengalami inflasi 0,25 persen (mtm) dengan andil 0,03 persen, dipengaruhi rambatan kenaikan harga energi global terhadap penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa mencatat deflasi 1,35 persen (mtm) akibat penurunan harga emas perhiasan, sejalan dengan koreksi harga emas global.
Baca Juga: Jeju Air Hentikan Sementara Rute Batam–Incheon
Rony menegaskan, sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tetap terjaga melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Upaya yang dilakukan meliputi publikasi iklan layanan masyarakat, edukasi inflasi, operasi pasar murah di Lingga, Tanjungpinang, dan Karimun, serta penguatan kelembagaan TPID.
Memasuki Juni 2026, BI Kepri mengingatkan sejumlah risiko inflasi, antara lain dampak El Nino lemah hingga moderat, kenaikan harga energi global yang memengaruhi BBM dan LPG nonsubsidi, tarif angkutan udara, serta biaya logistik. Namun, normalisasi harga emas perhiasan diperkirakan dapat menahan tekanan inflasi.
“Ke depan, Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas inflasi di Kepri. Target inflasi akhir tahun 2026 diharapkan tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1 persen,” ujar Rony. (*)
Editor : Putut Ariyo