Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Rupiah Melemah, Tas Hermès dan Rolex Jadi ‘Dana Darurat’ Kalangan Tajir

jpg • Sabtu, 13 Juni 2026 | 09:31 WIB
David Tatangsurja dari Business Development PT deGadai Solusi Digital. (Istimewa)
David Tatangsurja dari Business Development PT deGadai Solusi Digital. (Istimewa)

batampos – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mendorong sebagian kalangan untuk mencari sumber likuiditas tanpa harus melepas aset bernilai tinggi.

Alih-alih menjual investasi atau aset berharga, sejumlah pemilik kekayaan tinggi memilih memanfaatkan tas branded dan jam tangan mewah sebagai jaminan untuk memperoleh dana tunai jangka pendek.

“Dengan menggadaikan aset, individu bisa mendapatkan likuiditas sambil tetap mempertahankan kepemilikan aset mereka tanpa terpengaruh nilai tukar,” ujar Business Development PT deGadai Solusi Digital, David Tatangsurja.

Fenomena ini menunjukkan perubahan fungsi barang mewah yang selama ini identik dengan simbol status sosial. Tas premium seperti Hermès dan Chanel, maupun jam tangan mewah seperti Rolex dan Patek Philippe, kini mulai dipandang sebagai bagian dari portofolio aset yang dapat dimanfaatkan saat kondisi ekonomi bergejolak.

Di kalangan high net worth individuals (HNWI), barang-barang tersebut tidak lagi sekadar koleksi eksklusif, tetapi juga dianggap sebagai aset alternatif yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa harus dijual permanen.

Menurut David, menjual aset premium ketika pasar sedang tertekan bukanlah langkah ideal. Dalam situasi ketidakpastian ekonomi dan pelemahan mata uang, harga jual aset sering kali berada di bawah nilai potensialnya.

Karena itu, skema gadai dinilai menjadi solusi yang lebih fleksibel. Pemilik aset tetap memperoleh dana tunai untuk kebutuhan jangka pendek sekaligus mempertahankan kepemilikan barang yang berpotensi mengalami apresiasi nilai di masa depan.

Tren ini juga sejalan dengan perkembangan pasar global yang semakin mengakui barang mewah sebagai aset alternatif. Berbeda dengan sejumlah instrumen investasi yang sensitif terhadap kondisi ekonomi domestik, produk-produk luxury tertentu memiliki pasar sekunder yang kuat dan cenderung mampu mempertahankan nilainya dalam jangka panjang.

Tas dari rumah mode ternama, misalnya, kerap mengalami kenaikan harga setiap tahun, terutama untuk model-model edisi terbatas. Sementara itu, jam tangan premium dari merek tertentu juga terus mencatat peningkatan nilai di pasar kolektor maupun balai lelang internasional.

Di tengah volatilitas ekonomi dan fluktuasi nilai tukar, tren ini memperlihatkan bagaimana barang mewah kini tidak hanya berfungsi sebagai simbol prestise, tetapi juga sebagai instrumen pengelolaan kekayaan yang dapat memberikan fleksibilitas finansial bagi pemiliknya.

Melihat potensi tersebut, model pembiayaan berbasis aset atau asset-backed lending mulai mendapat perhatian.

Melalui skema ini, pemilik barang mewah dapat memperoleh dana tunai dalam waktu relatif cepat dengan menjadikan aset sebagai jaminan. Setelah kebutuhan likuiditas terpenuhi dan dana tersedia kembali, aset dapat ditebus sehingga kepemilikannya tetap terjaga.

Pilihan ini dinilai relevan bagi pelaku usaha maupun individu yang membutuhkan dana jangka pendek untuk menjaga arus kas.

Dibandingkan menjual aset atau mencairkan investasi pada saat kondisi pasar belum ideal, gadai memberikan ruang yang lebih fleksibel dalam pengelolaan keuangan.

Pelemahan rupiah sendiri bukan satu-satunya faktor yang mendorong tren tersebut. Volatilitas ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, hingga perubahan arah kebijakan suku bunga di berbagai negara turut membuat banyak orang mencari instrumen yang mampu menjaga nilai kekayaannya.

David menambahkan, konsultasi mengenai gadai barang mewah dapat dilakukan secara real-time tanpa biaya melalui situs resmi perusahaan. "Langkah tersebut bertujuan memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai mekanisme gadai aset premium, termasuk estimasi nilai pembiayaan yang dapat diperoleh," terangnya.

Dia pun menuturkan, bagi sebagian kalangan, menjaga kepemilikan aset sambil memanfaatkan nilainya untuk memenuhi kebutuhan likuiditas saat ini menjadi pilihan yang dinilai lebih efisien dibanding melepas aset secara permanen. (*)

Editor : Jamil Qasim
#Nilai Tukar Rupiah #Kalangan Tajir