Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Harga Pertamax Naik, Pertamina Masih Tanggung Selisih Rp3.570 per Liter

jpg • Senin, 15 Juni 2026 | 10:01 WIB
Kendaraan antre mengisi BBM di SPBU Batam Center, Minggu (19/4). Kenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi menimbulkan efek luas di berbagai sektor di Kota Batam. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Kendaraan antre mengisi BBM di SPBU Batam Center, Minggu (19/4). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dinilai masih belum mencerminkan harga keekonomian yang sebenarnya. Meski mengalami penyesuaian sebesar 32 persen dari sebelumnya Rp12.300 per liter, PT Pertamina masih menanggung selisih biaya yang cukup besar.

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development INDEF, Abra Talattov, mengungkapkan harga keekonomian Pertamax saat ini diperkirakan mencapai Rp20.000 per liter. Dengan harga jual yang berlaku saat ini, masih terdapat selisih sekitar Rp3.570 per liter yang harus ditanggung oleh Pertamina.

“Pertamina masih menanggung selisih antara harga keekonomian Rp20.000 dengan harga jual Rp16.250 per liter. Selisihnya mencapai sekitar 18,8 persen atau Rp3.570 per liter,” ujar Abra dalam diskusi virtual, Minggu (14/6).

Baca Juga: Pantai Gading Andalkan Trio Muda Hadapi Ekuador, Amad Diallo Cadangan

Menurut Abra, penetapan harga BBM nonsubsidi tidak hanya mempertimbangkan harga minyak mentah dunia, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah, biaya distribusi, serta struktur biaya produksi yang terus berubah mengikuti dinamika pasar energi global.

Ia menjelaskan bahwa karakter BBM nonsubsidi seperti Pertamax berbeda dengan BBM subsidi, seperti Pertalite dan solar subsidi, yang memiliki keterkaitan langsung dengan kebijakan fiskal pemerintah serta skema subsidi dan kompensasi negara.

Dari sisi ekonomi makro, Abra menilai dampak kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi nasional relatif terbatas. Pasalnya, pengguna Pertamax merupakan segmen tertentu dan volumenya tidak sebesar konsumsi Pertalite maupun solar subsidi yang digunakan oleh mayoritas masyarakat dan sektor produktif.

“Potensi kenaikan inflasi akibat penyesuaian harga Pertamax relatif kecil dibandingkan jika yang mengalami kenaikan adalah BBM subsidi yang digunakan secara luas oleh masyarakat maupun dunia usaha,” jelasnya.

Baca Juga: Ratusan Warga Padati Donor Darah PHIS di Batam, Pendaftar Hampir Tembus 500 Orang

Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan BBM subsidi jenis Pertalite tetap aman dan tersedia di seluruh Indonesia meskipun terjadi peningkatan kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan distribusi Pertalite berjalan normal sesuai penugasan pemerintah dengan dukungan sistem logistik dan infrastruktur yang terintegrasi.

Menurutnya, Pertamina terus mengoptimalkan pengelolaan rantai pasok energi melalui jaringan terminal BBM, armada distribusi, fasilitas penyimpanan, serta sistem pemantauan stok secara real-time guna memastikan ketersediaan BBM bagi masyarakat.

“Selain memastikan stok Pertalite tersedia, Pertamina Patra Niaga juga melakukan pemantauan secara real-time terhadap kondisi stok dan penyaluran BBM di seluruh wilayah agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Roberth.

Pertamina menegaskan bahwa seluruh jaringan SPBU tetap beroperasi normal dan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan BBM subsidi maupun nonsubsidi di tengah dinamika harga energi global yang masih berlangsung.

Editor : Jamil Qasim
#nonsubsidi jenis Pertamax #bbm