batampos - Pasar tenaga kerja Singapura menghadapi tekanan baru pada awal 2026. Di tengah meningkatnya restrukturisasi perusahaan dan ketidakpastian ekonomi global, jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali naik dan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Kelompok pekerja dengan pendidikan tinggi justru mencatat kenaikan PHK paling signifikan. Lulusan sarjana dan tenaga profesional kini menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terdampak.
"Jumlah pekerja yang terkena PHK naik menjadi 3.830 orang pada periode Januari hingga Maret 2026, meningkat dari 3.690 orang pada kuartal sebelumnya," tulis data dari Kementerian Ketenagakerjaan Singapura (Manpower Ministry/MOM), dikutip dari Channel News Asia, Rabu (17/6).
Tingkat PHK di kalangan pemegang gelar sarjana meningkat tajam dari 2,6 menjadi 3,1 per 1.000 pekerja penduduk. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh kelompok pendidikan lainnya.
Kementerian Ketenagakerjaan Singapura menyebut tren mencerminkan restrukturisasi yang sedang berlangsung di sektor - sektor profesional dan berbasis pengetahuan.
Baca Juga: BP BUMN: Hilirisasi, Manufaktur dan UMKM Jadi Prioritas Pembiayaan Bank Himbara
PHK paling banyak terjadi di sektor yang berorientasi pada pasar global, seperti manufaktur, jasa keuangan, serta layanan profesional.
Pemerintah Singapura menegaskan bahwa sebagian besar PHK bukan disebabkan oleh pemotongan biaya semata, tetapi reorganisasi dan transformasi bisnis yang dilakukan perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi dan perubahan teknologi.
Pekerja berusia 50 - 59 tahun mengalami peningkatan risiko kehilangan pekerjaan. Tingkat PHK pada kelompok usia tersebut naik dari 2,8 menjadi 3,1 per 1.000 pekerja.
Tingkat pengangguran nasional tetap berada di angka 2%. Sekitar 60,7% pekerja yang terkena PHK berhasil mendapatkan pekerjaan baru dalam waktu enam bulan, naik dibandingkan 57,4% pada kuartal sebelumnya.
Total penambahan pekerjaan pada kuartal pertama 2026 mencapai 9.400 posisi, lebih rendah dibandingkan 17.700 posisi pada kuartal sebelumnya.
Jumlah lowongan kerja juga turun menjadi 73.300 dari sebelumnya 77.700. Perusahaan - perusahaan di Singapura diperkirakan akan lebih berhati - hati dalam merekrut pekerja sepanjang tahun 2026.
Banyak perusahaan mulai berfokus pada perekrutan berbasis keterampilan, digitalisasi, dan efisiensi, sementara beberapa sektor cenderung mengalihkan kebutuhan tenaga kerja ke kontrak jangka pendek dibanding perekrutan permanen.(*)
Editor : Juliana Belence