batampos – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing memberikan dampak yang berbeda bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Batam. Sebagian pelaku usaha menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya produksi, sementara sektor lain justru menikmati peningkatan pendapatan dari bertambahnya kunjungan wisatawan mancanegara.
Pengamat ekonomi Suyono Saputro menilai UMKM di Batam saat ini tengah berada dalam fase adaptasi yang tidak mudah. Menurutnya, pelemahan rupiah menciptakan perbedaan dampak di antara pelaku usaha karena karakteristik Batam sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ) yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia.
“Batam memiliki keunikan tersendiri. Ketika rupiah melemah, daya beli masyarakat lokal cenderung tertahan karena inflasi barang kebutuhan. Namun di sisi lain, Batam menjadi semakin menarik bagi wisatawan Singapura dan Malaysia karena biaya berbelanja dan berwisata menjadi lebih murah bagi mereka,” ujarnya.
UMKM Manufaktur dan Kuliner Hadapi Tekanan
Suyono menjelaskan, sektor yang paling merasakan dampak negatif adalah UMKM manufaktur skala kecil dan usaha kerajinan yang masih bergantung pada bahan baku maupun komponen impor.
Kenaikan nilai dolar secara langsung meningkatkan biaya produksi sehingga menekan margin keuntungan pelaku usaha.
Selain itu, pelaku usaha kuliner yang menggunakan bahan baku impor seperti daging, keju, dan terigu juga menghadapi tantangan serupa. Kenaikan harga bahan baku membuat biaya operasional meningkat, sementara ruang untuk menaikkan harga jual relatif terbatas.
“Banyak pelaku usaha kuliner berada dalam posisi sulit. Jika harga jual dinaikkan, mereka khawatir pelanggan berkurang. Namun jika harga tetap dipertahankan, keuntungan bisa habis bahkan berpotensi merugi,” kata Suyono.
Baca Juga: Disdik Batam Perketat Penggunaan Gadget di Sekolah, Cegah Paparan Radikalisme
Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan sebagian pelaku usaha harus melakukan efisiensi, mencari pemasok alternatif, hingga menyesuaikan strategi pemasaran untuk mempertahankan usahanya.
Pariwisata dan Usaha Pendukung Nikmati Keuntungan
Di tengah tekanan yang dirasakan sebagian UMKM, sektor pariwisata justru memperoleh manfaat dari melemahnya rupiah.
Usaha penyewaan kendaraan, jasa perjalanan wisata, spa, hotel, hingga berbagai usaha pendukung lainnya mencatat peluang peningkatan pendapatan seiring bertambahnya jumlah wisatawan asing yang datang ke Batam.
Suyono menjelaskan bahwa wisatawan asal Singapura dan Malaysia merasakan daya beli yang lebih kuat ketika berwisata ke Batam karena nilai mata uang mereka lebih tinggi dibandingkan rupiah.
Dampak positif juga dirasakan pelaku usaha kuliner lokal dan penjual oleh-oleh yang menggunakan bahan baku domestik. Rumah makan seafood serta usaha makanan khas daerah relatif tidak terdampak kenaikan biaya bahan baku, namun memperoleh tambahan pelanggan dari wisatawan mancanegara.
“Secara agregat, UMKM Batam tidak kolaps. Mereka sedang melakukan reorientasi pasar untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekonomi,” ujarnya.
Biaya Logistik Jadi Beban Tambahan
Suyono menambahkan, keluhan dari pelaku UMKM terkait kenaikan biaya usaha meningkat cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya biaya logistik. Meski sebagian bahan baku berasal dari dalam negeri, distribusi ke Batam tetap terpengaruh oleh kenaikan biaya transportasi, bahan bakar, dan berbagai komponen biaya yang sensitif terhadap pergerakan mata uang asing.
Menurutnya, sebagian besar UMKM juga belum memiliki mekanisme perlindungan terhadap fluktuasi nilai tukar maupun kontrak harga jangka panjang dengan pemasok.
“Mayoritas UMKM belum memiliki sistem perlindungan terhadap fluktuasi nilai tukar maupun kontrak harga jangka panjang dengan pemasok. Karena itu mereka sangat rentan ketika rupiah melemah,” jelasnya.
Perlu Dukungan Pemerintah
Melihat kondisi tersebut, Suyono menilai pemerintah daerah perlu menghadirkan langkah konkret untuk membantu pelaku UMKM bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain memberikan dukungan distribusi, memperkuat rantai pasok lokal, memperluas akses terhadap bahan baku alternatif yang lebih terjangkau, serta meningkatkan program pendampingan usaha.
“Lonjakan keluhan dari pelaku UMKM ini harus menjadi perhatian serius. Dukungan pemerintah diperlukan agar usaha kecil tetap mampu bertahan dan menjaga roda perekonomian daerah tetap bergerak,” tutupnya. (*)
Editor : Putut Ariyo