batampos – Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berlaku sejak 10 Juni 2026 dapat menjadi momentum penting untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) secara masif di Indonesia.
Ketua Umum AISMOLI, Budi Setiyadi, mengatakan kenaikan harga BBM yang mencapai sekitar 37 persen semakin meningkatkan beban biaya transportasi masyarakat, baik pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat.
Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang membuat biaya impor BBM semakin mahal dan berpotensi meningkatkan beban subsidi energi pemerintah.
Baca Juga: Pemko Batam Bangun Jalan Lingkar Selatan, Jadi Jalur Alternatif Sei Beduk-Nongsa
"Kondisi ini menciptakan peluang sebagai momentum paling tepat untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik secara masif di Indonesia," kata Budi dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6).
Ia menilai setiap kendaraan listrik yang digunakan masyarakat akan mengurangi ketergantungan terhadap BBM secara permanen. Selain berdampak pada penghematan biaya masyarakat, langkah tersebut juga dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat fluktuasi harga energi global.
Mengacu pada hasil riset INDEF tahun 2025, sekitar 20 persen pengeluaran rumah tangga di Indonesia digunakan untuk kebutuhan transportasi, termasuk pembelian kendaraan, perawatan, pajak, dan bahan bakar.
Karena itu, berbagai insentif dan dukungan pemerintah pada masa kenaikan harga energi dinilai akan memberikan dampak yang lebih besar dalam mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik.
Selain faktor ekonomi, AISMOLI juga menilai dukungan publik terhadap kendaraan listrik semakin kuat. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar, sebanyak 98 persen responden menyatakan mendukung penggunaan kendaraan listrik.
Survei tersebut juga menunjukkan 94,8 persen responden mendukung pemerintah untuk mempercepat transisi menuju kendaraan listrik secara aktif.
Sementara itu, dari kalangan pengguna kendaraan listrik yang telah merasakan manfaatnya, sebanyak 96,8 persen mengaku memperoleh keuntungan berupa biaya operasional yang lebih rendah, perawatan yang lebih mudah, dan pajak kendaraan yang lebih ringan.
Bahkan, di kalangan masyarakat yang belum memiliki kendaraan listrik, sekitar 81,1 persen menyatakan bersedia beralih apabila kendaraan listrik terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup dari sisi kesehatan, lingkungan, dan ekonomi.
Selain itu, sebanyak 89,2 persen responden berharap harga kendaraan listrik dapat dibuat lebih terjangkau, sementara 95,8 persen mendukung peningkatan produksi kendaraan rendah emisi di dalam negeri.
"Masyarakat Indonesia sudah siap, memahami manfaatnya, dan menantikan percepatan transisi energi di sektor transportasi," ujar Budi.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal AISMOLI, Hanggoro Ananta Khrisna, menekankan pentingnya kepastian regulasi untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan industri kendaraan listrik nasional.
Menurutnya, industri membutuhkan kebijakan yang konsisten dan dapat diprediksi, mulai dari insentif pembelian, perpajakan kendaraan, hingga standar produksi dan investasi.
"Kepastian arah kebijakan menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan investasi dan pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia," katanya.
Ia menambahkan, pelaku industri saat ini telah siap mendukung percepatan transisi energi melalui penyediaan kendaraan, jaringan distribusi, dan pengembangan rantai pasok nasional. Namun, dukungan regulasi yang konsisten tetap menjadi kunci utama.
Dengan dukungan kebijakan yang berkelanjutan, AISMOLI meyakini Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun industri kendaraan listrik yang kompetitif dan mampu bersaing di pasar global. (*)
Editor : Jamil Qasim