Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I 2026, Purbaya Klaim Terkuat di Asia Tenggara

JawaPos • Minggu, 21 Juni 2026 | 13:38 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (5/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (5/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

batampos – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

Di tengah mulai stabilnya kondisi pasar global yang ditandai meredanya volatilitas dan membaiknya sentimen risiko, perekonomian Indonesia justru menunjukkan kinerja yang kuat.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini menempatkan Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 maupun ASEAN,” kata Purbaya dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (21/6).

Baca Juga: BI Rate Naik ke 5,75 Persen, Ekonom Minta Bank Indonesia Tahan Kenaikan Bunga Acuan

Menurut Purbaya, capaian tersebut didukung oleh stabilitas harga yang tetap terjaga. Hingga Mei 2026, tingkat inflasi tercatat sebesar 3,08 persen, atau masih berada dalam kisaran yang terkendali.

Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inflasi yang rendah dinilai semakin memperkuat kepercayaan investor terhadap pengelolaan ekonomi nasional.

“Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB Kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen. Pada saat yang sama, inflasi Mei 2026 terjaga di level 3,08 persen. Ini menunjukkan Indonesia memasuki periode ini dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan kebijakan ekonomi yang kredibel,” ujarnya.

Purbaya juga menilai Indonesia memiliki posisi yang cukup kuat dalam menghadapi potensi gangguan energi global.

Berdasarkan analisis risiko, Indonesia berada pada kelompok negara dengan tingkat eksposur rendah dan memiliki buffer yang kuat.

Baca Juga: Teaser MV ‘Ride or Die’ Resmi Dirilis, EVAN Siap Buka Babak Baru sebagai Solois

Dalam penilaian ketahanan energi global, Indonesia memperoleh skor 77 persen, sedikit di atas Tiongkok yang mencatatkan 76 persen dan hanya terpaut tipis dari Afrika Selatan dengan 79 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut didukung oleh kebijakan fiskal yang sehat dan prudent. Pemerintah tetap menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen sehingga APBN memiliki ruang yang cukup untuk berperan sebagai shock absorber dalam menghadapi tekanan eksternal tanpa mengganggu stabilitas ekonomi nasional. (*)

Editor : M Tahang
#Purbaya Yudhi Sadewa #G20 #asean #ekonomi indonesia #pertumbuhan ekonomi