batampos – Pemerintah Kota Batam terus mendorong peningkatan daya saing usaha mikro melalui pengembangan produk kreatif berbasis budaya lokal. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar pelatihan seni kreatif pembuatan souvenir khas Kepulauan Riau (Kepri) yang ditujukan bagi pelaku usaha mikro pemula.
Pelatihan yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskum) Kota Batam tersebut diikuti oleh 55 pelaku usaha dari berbagai sektor, mulai dari kuliner, fesyen hingga kerajinan tangan. Kegiatan ini tidak hanya memberikan materi teori, tetapi juga praktik langsung membuat produk souvenir yang mengangkat identitas budaya Melayu.
Salah satu produk yang menjadi fokus pelatihan adalah gantungan kunci berbentuk tanjak, penutup kepala tradisional Melayu yang dikenal sebagai simbol budaya masyarakat Kepulauan Riau.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, Salim, mengatakan produk souvenir memiliki prospek pasar yang menjanjikan, terutama dengan tingginya mobilitas wisatawan yang berkunjung ke Batam dan Kepri setiap tahun.
“Souvenir selalu dicari wisatawan sebagai buah tangan. Karena itu, kami mendorong pelaku usaha mikro untuk menciptakan produk yang unik, memiliki ciri khas daerah, dan memiliki nilai jual yang tinggi,” ujar Salim.
Baca Juga: Mozilla Sulap Halaman Utama Firefox Jadi Pusat Produktivitas dengan Widget Baru
Menurutnya, pengembangan produk berbasis kearifan lokal tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha, tetapi juga berperan dalam memperkenalkan dan melestarikan budaya Melayu kepada masyarakat yang lebih luas.
Ia menilai kreativitas menjadi faktor penting dalam menciptakan produk yang memiliki daya saing di pasar. Dengan inovasi yang tepat, pelaku usaha dapat menghadirkan produk yang berbeda dan memiliki nilai tambah dibandingkan produk serupa dari daerah lain.
“Melalui kreativitas yang dimiliki, pelaku usaha dapat menghasilkan produk yang menarik dan berbeda dari daerah lain. Ini menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan,” katanya.
Selain membekali peserta dengan keterampilan produksi, pelatihan tersebut juga memberikan pemahaman mengenai aspek legalitas usaha. Menurut Salim, legalitas menjadi salah satu fondasi penting agar usaha dapat berkembang secara profesional serta memperoleh akses yang lebih luas terhadap program pembinaan, pendampingan, maupun pembiayaan.
Diskum Batam mencatat masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi pelaku usaha mikro, mulai dari keterbatasan akses pemasaran, rendahnya pemanfaatan teknologi digital, hingga minimnya inovasi dalam pengembangan produk.
“Masalah yang sering kami temui adalah pemasaran yang masih terbatas dan pemahaman digitalisasi yang belum optimal. Karena itu, pelatihan seperti ini terus dilakukan agar pelaku usaha mampu beradaptasi dengan perkembangan pasar,” jelasnya.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Kena Penalti 12 Grid, Start dari Posisi 20 pada Moto3 GP Ceko 2026 di Brno
Sebagai upaya berkelanjutan dalam mendukung pertumbuhan usaha mikro, Diskum Batam melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) secara rutin menyelenggarakan berbagai pelatihan dan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha.
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pelaku UMKM sekaligus mendorong lahirnya produk-produk kreatif yang memiliki daya saing tinggi di pasar.
Salim berharap pelatihan pembuatan souvenir khas daerah dapat melahirkan lebih banyak produk unggulan yang tidak hanya diminati wisatawan lokal, tetapi juga mampu menembus pasar nasional bahkan internasional.
“Penguatan keterampilan dan inovasi menjadi kunci agar UMKM Batam semakin mandiri, berkembang, dan mampu bersaing di tengah persaingan usaha yang semakin kompetitif,” tutupnya. (*)
Editor : Putut Ariyo