Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Batam Harus Jadi Bukti Indonesia Mampu Eksekusi Investasi Lebih Cepat dan Kompetitif

Antara • Rabu, 24 Juni 2026 | 15:21 WIB
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis.

batampos - Ini kisah menarik yang dikisahkan oleh Fary Francis, Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam dalam gaya "saya".

Jom kita baca berssama

Dalam sebuah diskusi bersama Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, kami membahas tantangan terbesar Indonesia dalam memenangkan persaingan investasi global di tengah perubahan lanskap geoekonomi dunia yang semakin kompetitif.

Dalam diskusi tersebut, Dasco menyampaikan bahwa investor global saat ini tidak lagi hanya mempertimbangkan besarnya pasar Indonesia, jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa, atau kekayaan sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini.

Pertanyaan yang paling sering muncul justru sangat sederhana, namun menentukan keputusan investasi. Berapa lama proses perizinan dapat diselesaikan? Apakah regulasi yang berlaku konsisten? Seberapa kompetitif biaya logistik yang harus ditanggung investor?

Baca Juga: Rudenim dan Imigrasi Gelar Cek Gratis Kesehatan dan Bagikan Sembako Bagi Warga Tanjungpinang

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tampak teknis, tetapi sesungguhnya menjadi faktor utama yang menentukan apakah suatu investasi akan direalisasikan atau tidak.

Saya menyampaikan bahwa Indonesia pada dasarnya tidak kekurangan investor. Minat investasi terhadap Indonesia sangat besar. Modal tersedia, pasar domestik kuat, stabilitas politik relatif terjaga, dan prospek ekonomi jangka panjang tetap menjanjikan.

Tantangan yang dihadapi bukan terletak pada menarik investor untuk datang, melainkan memastikan investasi dapat dieksekusi secara cepat, pasti, dan efisien.

Dalam dunia usaha, waktu merupakan biaya. Setiap keterlambatan dalam proses perizinan, penyediaan lahan, utilitas, maupun pengambilan keputusan akan meningkatkan biaya investasi sekaligus menurunkan daya saing suatu kawasan.

Ketika ditanya mengenai langkah yang harus dilakukan Indonesia, khususnya Batam, saya menegaskan bahwa Indonesia tidak membutuhkan terlalu banyak regulasi baru. Yang lebih penting adalah memastikan regulasi yang sudah ada mampu menghadirkan kepastian hukum, kecepatan layanan, dan kemudahan berusaha.

Dalam konteks tersebut, Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmen kuat melalui reformasi tata kelola investasi dan penyederhanaan birokrasi.

Penerbitan PP Nomor 25 Tahun 2025 dan PP Nomor 28 Tahun 2025 menjadi langkah strategis untuk memperkuat kepastian regulasi, menyederhanakan proses perizinan, mempercepat pelayanan investasi, serta menghilangkan berbagai hambatan birokrasi yang selama ini menjadi perhatian dunia usaha.

Kedua regulasi tersebut mengirimkan pesan yang jelas kepada investor bahwa Indonesia ingin menjadi negara yang lebih kompetitif, lebih responsif, dan lebih ramah terhadap investasi.

Inilah reformasi yang paling substansial. Bukan sekadar memangkas prosedur administrasi, tetapi mengubah paradigma birokrasi dari yang sebelumnya berorientasi pada pengendalian menjadi birokrasi yang melayani dan memfasilitasi pertumbuhan ekonomi.

Pada akhirnya, investor tidak menilai pemerintah dari banyaknya regulasi yang diterbitkan. Mereka menilai dari pengalaman nyata di lapangan. Apakah izin selesai tepat waktu, apakah lahan tersedia saat dibutuhkan, apakah listrik dan air siap ketika industri mulai beroperasi, serta apakah seluruh institusi pemerintah bergerak dalam satu irama mendukung investasi.

Baca Juga: Blair Witch Kembali ke Layar Lebar, Film Horor Ikonik Rilis September 2027

Dalam konteks tersebut, Batam memiliki posisi yang sangat strategis. Batam bukan sekadar kawasan Free Trade Zone (FTZ), tetapi merupakan aset geoekonomi nasional yang memiliki posisi unik dalam peta perdagangan dan investasi dunia.

Batam berada di jalur Selat Malaka yang dilalui hampir 40 persen perdagangan global, berhadapan langsung dengan Singapura, dan menjadi bagian penting dari rantai pasok kawasan Asia Tenggara.

Keunggulan geografis tersebut memberikan peluang besar bagi Batam untuk berkembang sebagai gerbang investasi, perdagangan, logistik, manufaktur, hingga ekonomi digital Indonesia.

Data menunjukkan bahwa realisasi investasi Batam pada 2025 mencapai Rp69,3 triliun atau melampaui target yang telah ditetapkan. Pada periode yang sama, pertumbuhan ekonomi Batam mencapai 6,76 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Saat ini Batam juga memasuki fase baru transformasi ekonomi. Investasi di sektor pusat data (data center), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan ekonomi digital berkembang sangat pesat.

Proyek Equator Gate System Batam diproyeksikan memiliki nilai investasi hingga USD5 miliar, sementara investasi DayOne Data Center diperkirakan mencapai USD2,5 miliar.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Batam tidak lagi hanya bertumpu pada industri manufaktur konvensional, tetapi mulai bergerak menuju industri teknologi tinggi yang akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi masa depan.

Karena itu, ukuran keberhasilan Batam tidak boleh hanya dilihat dari jumlah nota kesepahaman (MoU) atau nilai komitmen investasi yang ditandatangani. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika investasi mampu diwujudkan menjadi proyek nyata, pabrik yang beroperasi, pusat data yang berjalan, lapangan kerja yang tercipta, ekspor yang meningkat, dan kesejahteraan masyarakat yang bertambah.

Baca Juga: Garap Musik Baru, Lisa Ungkap Kedekatan Spesial dengan Rosé BLACKPINK

Menjelang akhir diskusi, Dasco menyampaikan arahan penting bahwa Batam harus menjadi contoh keberhasilan implementasi kebijakan investasi Presiden Prabowo Subianto.

Batam harus mampu membuktikan bahwa reformasi regulasi, penyederhanaan perizinan, dan percepatan pelayanan investasi benar-benar dapat diwujudkan di lapangan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, seluruh pemangku kepentingan harus bergerak dalam satu irama, menghilangkan ego sektoral, mempercepat pengambilan keputusan, dan memastikan setiap investasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, transfer teknologi, serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pesan itu sederhana, tetapi sangat strategis: Batam tidak boleh hanya menjadi tujuan investasi. Batam harus menjadi bukti bahwa Indonesia mampu mengeksekusi investasi secara lebih cepat, lebih pasti, dan lebih kompetitif.

Sebab dalam persaingan geoekonomi abad ke-21, investor tidak mencari negara yang paling banyak menjanjikan. Mereka mencari negara yang paling mampu mengeksekusi. Dan Batam memiliki peluang besar untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu melakukannya. (*)

Editor : Putut Ariyo
#Fary Francis #bp batam #ekonomi batam #prabowo subianto #investasi batam