batampos – Laju penyaluran kredit perbankan di Kepulauan Riau (Kepri) mulai melambat pada awal 2026. Meski demikian, Bank Indonesia (BI) memastikan perlambatan tersebut belum menjadi sinyal pelemahan sektor keuangan. Sebaliknya, kualitas intermediasi perbankan dinilai semakin baik, sementara pertumbuhan ekonomi daerah masih berada di atas rata-rata nasional.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengatakan kinerja perbankan pada Triwulan I 2026 tetap berada dalam kondisi sehat. Pertumbuhan aset, Dana Pihak Ketiga (DPK), dan kredit memang melambat dibandingkan periode sebelumnya, namun masih berada dalam kisaran yang wajar sehingga tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan daerah.
Baca Juga: Koarmada IV Perkuat Pengawasan Penyaluran BBM Bersubsidi di Kepri
Berdasarkan data BI, aset perbankan di Kepri pada Triwulan I 2026 tumbuh 5,31 persen secara tahunan (year on year/yoy). Penghimpunan DPK meningkat 5,26 persen (yoy), sementara penyaluran kredit tumbuh 6,05 persen (yoy).
"Kinerja intermediasi perbankan di Kepri pada Triwulan I 2026 secara umum tetap terjaga dan menunjukkan perbaikan kualitas di tengah pertumbuhan kredit yang mengalami deselerasi," kata Rony, Senin (20/7).
Menurutnya, stabilitas sektor perbankan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Kepulauan Riau. Perlambatan pertumbuhan kredit tidak mengurangi fungsi intermediasi perbankan dalam mendukung aktivitas ekonomi maupun menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri jasa keuangan.
Baca Juga: Aksi Balap Liar Resahkan Warga Nongsa, Polisi Bubarkan Kerumunan Secara Persuasif
Di sisi lain, BI mencatat transformasi digital terus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Penggunaan sistem pembayaran berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mengalami peningkatan signifikan sepanjang Triwulan I 2026.
Volume transaksi QRIS melonjak 144,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai transaksi mencapai Rp3,86 triliun, dengan net outflow tercatat sebesar Rp989 miliar.
Menurut Rony, lonjakan tersebut mencerminkan semakin luasnya adopsi pembayaran digital oleh masyarakat maupun pelaku usaha. Kemudahan penggunaan, kecepatan transaksi, tingkat keamanan, serta bertambahnya jumlah merchant yang menerima pembayaran non-tunai menjadi faktor utama peningkatan penggunaan QRIS.
Kinerja sektor keuangan tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Kepri yang masih menunjukkan performa positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kepri pada Triwulan I 2026 tumbuh 7,04 persen secara tahunan.
Meskipun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Triwulan IV 2025 yang mencapai 7,89 persen, capaian tersebut masih berada jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen dan menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera.
Rony menjelaskan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi lebih dipengaruhi oleh efek basis (base effect), bukan karena melemahnya fundamental ekonomi daerah. BI pun memperkirakan aktivitas ekonomi Kepri tetap tumbuh positif hingga akhir tahun.
Selain itu, tekanan inflasi diproyeksikan tetap terkendali dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen, sehingga daya beli masyarakat diperkirakan tetap terjaga.
"Pesatnya pertumbuhan transaksi QRIS menunjukkan transformasi digital di Kepri berjalan semakin baik. Didukung pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi, stabilitas sistem keuangan yang terjaga, dan inflasi yang terkendali, kami optimistis perekonomian Kepri akan tetap tumbuh positif sepanjang 2026," ujar Rony.
Editor : Jamil Qasim