AI Percepat Belajar Mahasiswa, tetapi Etika Tetap Jadi Prioritas

Abdul Azis Maulana • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 10:38 WIB
Rektor Binus University, Nelly. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
Rektor Binus University, Nelly. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

batampos – Penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), termasuk ChatGPT, semakin menjadi bagian dari proses pembelajaran di perguruan tinggi. Selain membantu mahasiswa memperoleh informasi lebih cepat, teknologi ini juga dinilai mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan memperluas wawasan.

Meski demikian, pemanfaatan AI di dunia pendidikan harus dibarengi dengan pemahaman mengenai etika penggunaannya agar teknologi dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Rektor Binus University, Nelly, mengatakan kampus telah mengintegrasikan materi AI ke dalam berbagai mata kuliah sekaligus menyusun pedoman etika penggunaan AI bagi mahasiswa dan dosen.

"Pada saat kita menyiapkan bahwa fundamental AI itu ada di seluruh mata kuliah, kita juga pada saat itu menyiapkan etikanya apa. Dan saat ini kita sudah luncurkan etika baik itu untuk mahasiswa maupun itu untuk dosen tentunya," ujar Nelly dalam diskusi yang digelar Binus University di Jakarta, Selasa (28/7).

Baca Juga: 6 Putra-Putri Polda Kepri Lulus Taruna Akpol 2026

Menurutnya, penerapan AI dalam pembelajaran bertujuan membantu mahasiswa belajar lebih efektif, mempercepat pemahaman materi, serta mendorong cara berpikir yang lebih kritis.

"Agar seluruh mahasiswa belajar bahwa AI bisa membantu mempercepat belajar, membantu berpikir lebih kritis, dan membuka wawasan lebih luas. Itu yang kami lakukan dari sisi akademik," katanya.

AI Jadi Bagian dari Transformasi Pendidikan

Binus University juga kembali membuka program beasiswa untuk tahun akademik 2027/2028. Program tersebut menjadi bagian dari strategi kampus dalam mendukung pengembangan talenta muda Indonesia melalui transformasi digital dan penerapan ekosistem pembelajaran berbasis AI.

Nelly menjelaskan, AI merupakan evolusi dari cara manusia mencari informasi. Jika sebelumnya sumber belajar bergantung pada buku dan kemudian berkembang melalui mesin pencari (search engine), kini AI mampu memberikan jawaban yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pengguna.

"Dulu referensi menggunakan buku, kemudian berkembang menjadi mesin pencari. Sekarang kita cukup bertanya dan AI memberikan jawaban sesuai informasi yang dibutuhkan," ujarnya.

Ia menambahkan, ChatGPT hanyalah salah satu dari banyak teknologi AI yang tersedia saat ini. Yang lebih penting adalah kemampuan pengguna dalam memanfaatkan berbagai perangkat AI secara tepat untuk meningkatkan kualitas belajar.

Baca Juga: Kenduri Durian Bintan 2026 Disorot

"Tinggal bagaimana kita memanfaatkan tools tersebut untuk membantu mempercepat pemahaman dan membuat kita berpikir lebih kritis serta lebih mendalam. Dengan AI, kecepatan belajar mestinya meningkat secara eksponensial dibandingkan sebelumnya," jelasnya.

AI Tidak Menggantikan Peran Manusia

Di tengah pesatnya perkembangan AI, Nelly menilai masyarakat tidak perlu khawatir teknologi akan sepenuhnya menggantikan manusia. Menurutnya, kemampuan mengambil keputusan, nilai moral, dan empati tetap menjadi keunggulan yang hanya dimiliki manusia.

"AI memang akan menggantikan sebagian pekerjaan, tetapi juga akan melahirkan jenis pekerjaan baru. Yang perlu dikhawatirkan bukan AI yang menggantikan manusia, melainkan orang yang tidak memanfaatkan AI akan tertinggal," katanya.

Ia mengingatkan bahwa manusia tetap harus menjadi pihak yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya. Karena itu, peningkatan kompetensi digital dan literasi AI menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa maupun masyarakat luas.

"Empati tidak ada di dalam AI. Yang membuat keputusan tetap manusia. Jadi kita harus terus membekali diri, manfaatkan teknologi, jangan sampai kita yang dimanfaatkan oleh teknologi," pungkasnya. (*)

 

Editor : Putut Ariyo
pendidikan tinggi Binus University etika AI AI ChatGPT