batampos – Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepulauan Riau melakukan misi investasi ke Vietnam guna memperkuat daya saing Batam sebagai tujuan investasi di Asia Tenggara. Selama sepekan, 28 Juli hingga 2 Agustus 2026, delegasi bertemu pelaku industri, pemerintah, hingga perwakilan diplomatik Indonesia di Hanoi untuk mempelajari strategi pengembangan ekosistem investasi Vietnam.
Misi tersebut diwujudkan melalui serangkaian kunjungan strategis, termasuk ke SEICO Steel, perusahaan fabrikasi baja terbesar di Vietnam, serta pertemuan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Hanoi.
Delegasi dipimpin Ketua Umum Kadin Kepulauan Riau, Mustava, bersama Anggota/Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis.
Bangun Kemitraan dan Jemput Investasi
Kunjungan ke SEICO Steel merupakan kunjungan balasan setelah perusahaan tersebut mempresentasikan rencana investasi dan peluang kerja sama kepada BP Batam dan Kadin Kepri di Batam sekitar dua bulan lalu.
Ketua Umum Kadin Kepri, Mustava, mengatakan langkah tersebut menunjukkan keseriusan dunia usaha dan BP Batam dalam menjemput investasi secara langsung, bukan hanya menunggu investor datang.
"Kami tidak hanya menawarkan Batam sebagai lokasi investasi, tetapi membangun kepercayaan melalui komunikasi langsung dengan investor. Kunjungan balasan ini menunjukkan komitmen Kadin Kepri dan BP Batam untuk menghadirkan investasi yang berkualitas, memperkuat industri pendukung, serta membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat," ujarnya, Jumat (31/7).
Di SEICO Steel, rombongan mempelajari pengembangan industri baja, rekayasa teknik, pembangunan kawasan industri, hingga integrasi rantai pasok yang menjadi salah satu kunci pesatnya pertumbuhan industri Vietnam.
Pengalaman tersebut dinilai relevan bagi Batam yang tengah mengembangkan sektor elektronik, semikonduktor, pusat data, kendaraan listrik, logistik, galangan kapal, dan industri maritim.
Gandeng KBRI Hanoi Promosikan Investasi Batam
Selain mengunjungi kawasan industri, delegasi juga bertemu Duta Besar RI untuk Vietnam, Adam Mulawarman Tugio, beserta jajaran KBRI Hanoi.
Pertemuan difokuskan pada penguatan promosi investasi, pertukaran informasi strategis, serta identifikasi perusahaan-perusahaan Vietnam yang berpotensi menanamkan modal di Batam.
Fary Djemy Francis mengatakan KBRI Hanoi memiliki peran strategis dalam membuka akses komunikasi antara BP Batam dan dunia usaha Vietnam.
"Vietnam memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana membangun ekosistem investasi yang kompetitif. Saat ini investor tidak hanya mencari insentif, tetapi juga kepastian hukum, kemudahan berusaha, kesiapan lahan, pelayanan yang cepat, serta rantai pasok industri yang kuat. Karena itu BP Batam terus melakukan transformasi pelayanan investasi agar Batam semakin kompetitif di tingkat regional," katanya.
Tawarkan Inovasi Layanan Investasi
Dalam pertemuan tersebut, BP Batam juga memaparkan sejumlah inovasi pelayanan investasi yang telah diterapkan, di antaranya:
- Dashboard Pengaduan Investasi untuk memantau penyelesaian pengaduan investor secara terintegrasi.
- Duta Investasi yang mendampingi investor sejak tahap penjajakan hingga realisasi proyek.
- Pelayanan Premium bagi investor strategis melalui percepatan koordinasi lintas unit kerja.
BP Batam juga menegaskan prinsip pengelolaan lahan yang menempatkan tanah sebagai fasilitas pembangunan, bukan komoditas, sehingga pemanfaatannya diarahkan untuk mendorong investasi produktif, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Belajar dari Keberhasilan Vietnam
Duta Besar RI untuk Vietnam, Adam Mulawarman Tugio, mengapresiasi transformasi pelayanan investasi yang dilakukan BP Batam.
Menurutnya, inovasi tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing Batam di tengah kompetisi investasi kawasan Asia Tenggara.
KBRI Hanoi juga menyatakan siap mendukung promosi investasi Batam dengan memfasilitasi komunikasi bersama perusahaan-perusahaan Vietnam, khususnya di sektor energi, manufaktur, dan industri strategis.
Sementara itu, Direktur Pengelolaan Pertanahan BP Batam, Harlas Buana Adang, mengatakan keberhasilan Vietnam menunjukkan pentingnya membangun ekosistem investasi yang mampu melahirkan rantai pasok industri yang kuat.
"Keberhasilan Batam pada masa depan tidak hanya diukur dari banyaknya investor yang masuk, tetapi dari kemampuan membangun ekosistem investasi yang mampu melahirkan rantai pasok industri yang utuh. Ketika ekosistem tersebut terbentuk, investasi akan berkembang secara berkelanjutan, industri pendukung akan tumbuh, dan Batam akan semakin kokoh sebagai pusat industri dan investasi berdaya saing di tingkat regional maupun global," ujarnya.
Sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ) yang berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka dan berhadapan langsung dengan Singapura, Batam dinilai memiliki keunggulan untuk berkembang sebagai pusat perdagangan, logistik, manufaktur, industri maritim, pusat data, kecerdasan buatan (AI), dan ekonomi digital. (*)
Editor : Putut Ariyo