batampos – Bisnis barbershop masih menjadi salah satu peluang usaha yang menjanjikan di Indonesia. Meningkatnya kesadaran masyarakat, khususnya pria, terhadap penampilan dan perawatan diri mendorong pertumbuhan industri grooming yang kini telah menjadi bagian dari gaya hidup modern.
Namun, membuka barbershop tidak cukup hanya bermodalkan kursi, cermin, alat cukur, dan tenaga barber. Dibutuhkan perencanaan bisnis yang matang, mulai dari riset pasar, konsep usaha, legalitas, hingga sistem operasional yang mampu menjaga kualitas layanan secara konsisten.
Founder dan Owner Starsbox Indonesia, Rizky Kurniadi, mengatakan banyak orang tertarik terjun ke bisnis barbershop karena melihat prospeknya yang terus berkembang. Meski demikian, ia menilai pemahaman terhadap fondasi bisnis menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan usaha.
"Membuka barbershop bukan sekadar mengikuti tren. Pelaku usaha harus memahami target pasar, konsep yang ingin dibangun, standar pelayanan, hingga bagaimana bisnis dapat berjalan secara konsisten setiap hari," ujar Rizky, Kamis (6/8).
Menurutnya, pengalaman Starsbox Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan sebuah bisnis lebih ditentukan oleh sistem yang dibangun dibandingkan sekadar tampilan outlet.
"Dari pengalaman Starsbox, pondasi bisnis jauh lebih penting daripada sekadar tampilan outlet," katanya.
Riset Pasar Jadi Langkah Awal
Rizky menekankan pentingnya melakukan riset pasar sebelum membuka usaha. Langkah tersebut membantu calon pengusaha memahami kebutuhan konsumen, tingkat persaingan, hingga potensi pasar di lokasi yang dipilih.
Ia mengacu pada panduan U.S. Small Business Administration (SBA) yang menyebutkan riset pasar dapat memberikan gambaran mengenai tingkat permintaan, ukuran pasar, lokasi calon pelanggan, kondisi kompetitor, hingga kisaran harga yang bersedia dibayar konsumen.
Bagi calon pemilik barbershop, riset dapat dilakukan dengan mengamati jumlah kompetitor di sekitar lokasi, karakteristik pelanggan, harga layanan potong rambut, serta tren gaya rambut dan layanan yang sedang diminati.
Tentukan Konsep Sesuai Target Pasar
Setelah memahami pasar, langkah berikutnya adalah menentukan konsep usaha yang sesuai dengan segmen konsumen.
Pilihan konsep dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar, seperti premium barbershop, express haircut, family barbershop, student-friendly, executive grooming, maupun model kemitraan atau franchise.
Starsbox Indonesia sendiri memulai usahanya sebagai barbershop premium di Batam pada 2015. Kini, perusahaan tersebut telah berkembang menjadi ekosistem grooming dan lifestyle pria yang mencakup training center, produk perawatan pria, serta program kemitraan lengkap dengan SOP, pelatihan, sistem operasional, produk, dan pendampingan bisnis.
Legalitas dan SOP Tidak Boleh Diabaikan
Selain konsep usaha, Rizky menegaskan legalitas merupakan aspek penting yang harus dipenuhi setiap pelaku usaha.
Setiap bisnis perlu memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai identitas resmi. Legalitas tersebut juga harus didukung dengan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) agar seluruh aktivitas bisnis berjalan secara sistematis.
Menurutnya, barbershop harus memiliki standar pelayanan yang jelas, mulai dari proses menyambut pelanggan, konsultasi gaya rambut, kebersihan alat, kualitas pelayanan, hingga pencatatan penjualan harian.
"Kalau bisnis hanya berjalan karena owner selalu ada di tempat, berarti sistemnya belum terbentuk," ujarnya.
Barber Berkualitas dan Pemasaran Digital Jadi Kunci
Dalam industri barbershop, barber menjadi representasi utama sebuah merek. Karena itu, pelatihan secara berkelanjutan dinilai sebagai investasi penting agar kualitas potongan rambut, pelayanan, dan pengalaman pelanggan tetap terjaga.
Di sisi lain, strategi pemasaran juga harus mengikuti perkembangan digital. Menurut Rizky, promosi kini tidak lagi mengandalkan rekomendasi dari mulut ke mulut semata.
Pemilik barbershop disarankan memanfaatkan media sosial melalui konten transformasi potongan rambut (before-after), testimoni pelanggan, hingga edukasi seputar grooming untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
"Di Starsbox, kami belajar bahwa barbershop bukan sekadar menjual potong rambut. Yang kami jual adalah kepercayaan, kenyamanan, dan pengalaman," katanya.
Rizky menambahkan, bisnis barbershop memiliki peluang berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan apabila dibangun dengan persiapan yang matang. Kuncinya adalah memahami kebutuhan pasar, menghitung kebutuhan modal secara realistis, membangun sistem operasional yang kuat, serta menyiapkan tim barber yang mampu memberikan pelayanan terbaik secara konsisten.
"Saat pelanggan puas, mereka akan kembali dan dengan sendirinya merekomendasikan layanan kepada orang lain," tutupnya. (*)
Editor : Putut Ariyo