batampos – Pengembangan energi panas bumi di Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar dukungan teknologi dan pendanaan. Kolaborasi antara pemerintah, pengembang, investor, pelaku industri, hingga mitra teknologi dinilai menjadi faktor penting untuk mempercepat pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi dalam transisi menuju energi bersih.
Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia (INAGA) Julfi Hadi mengatakan soliditas antarpemangku kepentingan diperlukan agar seluruh ekosistem industri panas bumi dapat bergerak dalam arah yang sama.
Menurutnya, tantangan pengembangan panas bumi tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga pembiayaan, regulasi, kepastian proyek, hingga kesiapan infrastruktur pendukung.
“Akselerasi pengembangan energi panas bumi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi dan pendanaan, tetapi juga pada soliditas para pemangku kepentingan yang menggerakkannya,” kata Julfi Hadi dalam keterangannya.
Ia mengatakan penguatan kolaborasi tersebut menjadi bagian penting menjelang pelaksanaan The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026.
“Sebelum kita membahas isu-isu krusial dan kebijakan energi di konvensi IIGCE pertengahan bulan nanti, hari ini kita menyatukan langkah dan mempererat kolaborasi di lapangan lewat cara yang sehat dan menyenangkan,” ujarnya.
Panas Bumi Berperan sebagai Energi Baseload
Panas bumi dinilai memiliki posisi strategis dalam agenda transisi energi Indonesia karena mampu menghasilkan listrik secara relatif stabil.
Karakteristik tersebut membuat pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dapat berfungsi sebagai pembangkit beban dasar atau baseload, berbeda dengan sejumlah sumber energi terbarukan lain yang produksinya lebih bergantung pada kondisi cuaca atau waktu tertentu.
Kemampuan tersebut membuat panas bumi relevan dengan kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan pemanfaatan energi bersih sekaligus menjaga keandalan sistem kelistrikan.
Meski memiliki potensi besar, pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan. Persoalan tersebut antara lain kebutuhan investasi yang besar, risiko eksplorasi, pengembangan wilayah kerja, infrastruktur, serta kepastian kebijakan dan keekonomian proyek.
Tahap eksplorasi menjadi salah satu fase paling berisiko karena membutuhkan modal besar sebelum potensi sumber daya panas bumi dapat dikonfirmasi dan dikembangkan menjadi pembangkit.
Karena itu, percepatan pengembangan industri panas bumi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan.
Pemerintah berperan dalam menyediakan kebijakan dan regulasi yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha. Sementara pengembang membutuhkan dukungan pembiayaan, teknologi, infrastruktur, serta kepastian pasar listrik.
Investasi dan Teknologi Jadi Kunci
Kebutuhan investasi menjadi salah satu tantangan utama dalam mempercepat pembangunan proyek panas bumi baru.
Karakter eksplorasi yang membutuhkan modal besar dengan tingkat ketidakpastian tinggi pada tahap awal membuat kepastian kebijakan dan keekonomian proyek menjadi pertimbangan penting bagi investor.
Semakin jelas kerangka pengembangan proyek, regulasi, serta prospek keekonomiannya, semakin besar peluang investasi masuk ke sektor panas bumi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dapat membantu meningkatkan efisiensi eksplorasi dan produksi. Inovasi dalam pengeboran, pengelolaan reservoir, teknologi pembangkit, hingga pemanfaatan sistem digital berpotensi membantu menekan risiko dan biaya pengembangan.
Karena itu, masa depan industri panas bumi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya. Setidaknya terdapat tiga aspek penting yang perlu berjalan beriringan, yakni sumber daya, investasi, dan kepastian kebijakan.
Kolaborasi ketiga aspek tersebut menjadi semakin penting ketika Indonesia berupaya memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
IIGCE 2026 Bahas Masa Depan Panas Bumi
Penguatan ekosistem panas bumi akan menjadi salah satu topik dalam IIGCE 2026 yang mengusung tema “Energy Self-Sufficiency For a Stronger Indonesia: Geothermal as The Baseload Driving Energy Transition and Security.”
Konvensi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 19–21 Agustus 2026 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.
Forum tersebut akan mempertemukan pelaku industri, regulator, investor, akademisi, serta praktisi dari berbagai negara untuk membahas pengembangan panas bumi, kebijakan energi, teknologi, investasi, serta peran panas bumi dalam mendukung ketahanan dan transisi energi Indonesia.
Sejumlah isu strategis terkait pengembangan panas bumi dan teknologi pendukungnya juga akan menjadi bagian dari agenda konvensi dan pameran.
Ketua Panitia Pelaksana Geothermal Fun Walk & Run 2026 Chandra A. Salim mengatakan keterlibatan berbagai elemen industri menunjukkan pentingnya membangun hubungan yang lebih erat di antara para pemangku kepentingan sektor panas bumi.
“Kami sangat bersyukur dan bangga melihat energi serta antusiasme yang luar biasa dari seluruh peserta hari ini. Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai ajang olahraga, tetapi sebagai ruang keakraban yang mengikat seluruh ekosistem panas bumi,” ujar Chandra.
Dengan penguatan kolaborasi, dukungan investasi, inovasi teknologi, serta kepastian regulasi, pengembangan panas bumi diharapkan dapat berjalan lebih cepat dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap ketahanan energi serta target transisi energi Indonesia. (*)
Editor : Putut Ariyo