Penjualan Ritel Diproyeksi Tumbuh 0,9 Persen pada Juli 2026

JawaPos • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:01 WIB
Ilustrasi pasar ritel. Foto: Pontianak Post Jawapos Group
Ilustrasi pasar ritel. Foto: Pontianak Post Jawapos Group

batampos - Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja penjualan ritel nasional tetap menunjukkan tren positif pada Juli 2026. Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Juni 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) diproyeksikan mencapai 224,4, atau tumbuh 0,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh meningkatnya penjualan pada sejumlah kelompok barang, khususnya Makanan, Minuman, dan Tembakau, yang mencatat indeks 315,5 atau tumbuh 1,6 persen (yoy).

Selain itu, kelompok Suku Cadang dan Aksesori diperkirakan menjadi salah satu kontributor utama dengan pertumbuhan 10,8 persen (yoy) dan indeks 156,9. Sementara Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya juga diproyeksikan tumbuh 2,5 persen (yoy) dengan indeks 92,6.

Kontraksi Bulanan Mulai Mereda

Secara bulanan (month to month/mtm), BI memperkirakan penjualan eceran pada Juli 2026 mengalami kontraksi 0,3 persen. Meski masih berada di zona negatif, angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan kontraksi 4,1 persen yang terjadi pada Juli 2025.

Menurut BI, perlambatan kontraksi didukung oleh meningkatnya aktivitas belanja masyarakat pada awal tahun ajaran baru.

Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya diperkirakan tumbuh 9,5 persen (mtm), sedangkan Barang Budaya dan Rekreasi meningkat 5,3 persen (mtm). Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya kebutuhan rumah tangga dan perlengkapan sekolah.

Baca Juga:  Andy Lau Raih Gelar Doktor Kehormatan dari Hong Kong Baptist University

Di sisi lain, beberapa kelompok masih diperkirakan mengalami penurunan penjualan. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau diproyeksikan terkontraksi 0,9 persen (mtm), sementara Peralatan Informasi dan Komunikasi turun 1,8 persen (mtm). Penurunan pada kedua kelompok tersebut diperkirakan menahan laju perbaikan penjualan ritel secara keseluruhan.

BI Proyeksikan Tekanan Inflasi September Menurun

Dari sisi harga, Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi pada September 2026 akan mereda. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2026 yang berada di level 155,2, lebih rendah dibandingkan 178,0 pada Agustus 2026.

Namun, memasuki akhir tahun, tekanan harga diperkirakan kembali meningkat. BI mencatat IEH Desember 2026 diproyeksikan mencapai 168,1, sedikit lebih tinggi dibandingkan 167,5 pada November 2026.

Prospek tersebut menunjukkan ekspektasi pelaku usaha terhadap kenaikan harga barang menjelang periode libur akhir tahun yang umumnya diiringi peningkatan permintaan masyarakat. (*)

Editor : Putut Ariyo
Penjualan Ritel Indeks Penjualan Riil ekonomi indonesia inflasi bank indonesia