batampos – Perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali membuka peluang relokasi industri ke berbagai negara di Asia, termasuk Batam. Namun, peluang tersebut belum otomatis membuat perusahaan global memilih Batam sebagai basis produksi baru.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasid mengatakan, pengalaman dari beberapa gelombang perang dagang sebelumnya menunjukkan relokasi industri ke Batam masih relatif terbatas. Sebaliknya, Vietnam justru menjadi tujuan utama banyak perusahaan yang ingin mendiversifikasi rantai pasoknya dari China.
"Dari beberapa kali perang dagang yang terjadi antara AS dengan China, investor yang relokasi ke Batam tidak begitu banyak akibat perang tersebut. Vietnam jauh lebih menarik sehingga investor lebih banyak yang relokasi ke sana ketimbang ke Batam," ujar Rafki, Rabu (12/8).
Industri Panel Surya Sempat Untungkan Batam
Menurut Rafki, Batam sempat merasakan manfaat dari tren diversifikasi rantai pasok global. Salah satu sektor yang berkembang pesat adalah industri panel surya (solar panel) yang memindahkan sebagian produksinya ke Batam.
Namun, peluang tersebut kembali menghadapi tantangan setelah pemerintah AS mengenakan tarif tinggi terhadap produk panel surya.
"Beberapa waktu yang lalu sektor yang banyak relokasi ke Batam adalah industri solar panel. Tapi industri ini dikenai tarif yang sangat tinggi oleh Trump. Jadi kemungkinan mereka akan relokasi lagi ke negara lain," katanya.
Ia menegaskan, keputusan investor tidak hanya ditentukan oleh perang tarif, tetapi juga dipengaruhi daya saing kawasan, biaya produksi, kepastian regulasi, kualitas infrastruktur, ketersediaan tenaga kerja, hingga kemudahan berinvestasi.
Rafki juga menilai situasi perang tarif AS-China saat ini belum menunjukkan eskalasi seperti beberapa tahun lalu sehingga belum terlihat adanya gelombang besar relokasi industri menuju Batam.
BP Batam: Relokasi Industri Kini Lebih Selektif
Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djamy Francis menyebut perang tarif memang menciptakan peluang baru. Namun, perusahaan global kini jauh lebih selektif dalam menentukan lokasi investasi.
Menurutnya, pengawasan ketat pemerintah AS terhadap praktik transshipment membuat perusahaan tidak cukup hanya memindahkan barang dari China ke negara lain sebelum diekspor ke Amerika Serikat.
"Batam menarik karena FTZ, dekat Singapura, basis industri matang, dan akses rantai pasok regional. Namun relokasi sekarang lebih selektif karena AS juga memperketat isu transshipment melalui negara ketiga," kata Fary.
Baca Juga: Krisis Air Tanjung Sengkuang Berulang, Akademisi Soroti Tata Kelola Pelayanan
Ia menjelaskan perusahaan kini membutuhkan lokasi yang benar-benar memiliki proses manufaktur dengan nilai tambah sehingga memenuhi ketentuan perdagangan internasional.
Kedekatan dengan Singapura Jadi Nilai Tambah
Fary menilai Batam memiliki sejumlah keunggulan kompetitif, mulai dari status Free Trade Zone (FTZ), kawasan industri yang telah berkembang, akses pelabuhan internasional, hingga kedekatan dengan Singapura yang mendukung logistik, jasa keuangan, teknologi, dan jaringan bisnis global.
Sektor yang dinilai paling berpotensi menarik investasi baru antara lain:
- Elektronik
- Precision manufacturing
- Machinery
- Komponen industri
- Data center dan ekosistem digital
"Paling prospektif adalah elektronik dan precision manufacturing, kemudian machinery, komponen industri, serta ekosistem digital atau data center," ujarnya.
Investasi Batam Tumbuh Lebih dari 100 Persen
Meski belum dapat menghitung secara spesifik investasi yang masuk akibat perang tarif AS-China, BP Batam mencatat tren investasi tetap positif.
Pada Triwulan I 2026, realisasi investasi Batam mencapai Rp17,48 triliun, meningkat 102,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Fary, capaian tersebut menunjukkan Batam tetap menjadi salah satu kawasan yang dipertimbangkan investor global dalam strategi diversifikasi rantai pasok.
Ia menolak anggapan bahwa Batam hanya menjadi pihak yang beruntung karena situasi geopolitik.
"Saya lebih memilih istilah prepared winner, bukan accidental winner. Perang dagang membuka jendela peluang, tetapi investor memilih Batam karena kombinasi lokasi, FTZ, infrastruktur, ekosistem industri, kedekatan Singapura, dan kepastian pelayanan," katanya.
Target Batam: Bukan Sekadar Tempat Relokasi Pabrik
BP Batam kini menargetkan perubahan posisi Batam dari sekadar relocation destination menjadi ecosystem destination.
Artinya, investasi yang masuk diharapkan tidak hanya memindahkan pabrik, tetapi juga membangun rantai pasok lokal, industri pemasok, pusat logistik, pengembangan teknologi, hingga peningkatan kualitas tenaga kerja.
"Targetnya bukan sekadar pabrik pindah ke Batam, tetapi supply chain tumbuh di Batam," ujar Fary.
Untuk mencapai target tersebut, BP Batam menilai sejumlah aspek masih perlu diperkuat, mulai dari percepatan perizinan, kepastian lahan, pasokan listrik dan air yang andal, hingga efisiensi logistik.
Selain itu, pelayanan aftercare bagi investor dinilai penting agar perusahaan yang telah berinvestasi tetap bertahan dan terus mengembangkan usahanya di Batam.
Apindo: Batam Jangan Hanya Jadi Alternatif Sementara
Rafki mengingatkan Batam tidak boleh hanya menjadi pilihan sementara ketika terjadi gejolak perdagangan global.
Menurutnya, pemerintah perlu menjaga iklim investasi tetap kompetitif melalui kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan peningkatan daya saing pelaku industri lokal.
"Jangan sampai Batam hanya menjadi alternatif sementara ketika terjadi gejolak perdagangan, tetapi kemudian ditinggalkan investor ketika kondisi kembali normal," katanya.
Ia menambahkan, Batam harus mampu bersaing dengan Vietnam, Malaysia, Thailand, serta kawasan industri lain di Indonesia yang sama-sama menawarkan berbagai insentif investasi.
Dengan demikian, perang tarif AS-China memang membuka peluang bagi Batam. Namun, keberhasilan menarik investasi tetap bergantung pada kemampuan daerah menghadirkan kepastian usaha, infrastruktur yang andal, serta ekosistem industri yang membuat investor memilih bertahan dalam jangka panjang. (*)
Editor : Putut Ariyo