batampos – Kebijakan biodiesel B50 dinilai memberikan dampak positif terhadap ketahanan energi Indonesia karena berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.
Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima), Robert Winerungan, mengatakan pengurangan impor solar dapat menghemat devisa negara hingga sekitar Rp170 triliun.
Menurutnya, dana yang sebelumnya digunakan untuk membayar impor solar dapat dialihkan untuk kebutuhan lain, termasuk pengembangan teknologi dan peningkatan produktivitas industri dalam negeri.
"Sebagian besar devisa kita habis untuk impor BBM dan bayar utang. Sekarang kalau BBM itu, solar tidak impor lagi, yang Rp170 triliun itu devisa hemat besar sekali," kata Robert saat dihubungi, Minggu (16/8/2026).
Ia menilai penerapan B50 membuat devisa Indonesia tidak lagi terlalu banyak tersedot untuk impor solar.
"Jadi B50 ini sangat menghemat devisa. Devisa kita tidak terkuras oleh impor BBM lagi. Ada impor BBM, tapi sudah bukan solar," ujarnya.
Devisa Bisa Dialihkan untuk Teknologi
Menurut Robert, penghematan devisa dari pengurangan impor solar seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas teknologi nasional.
Investasi di bidang teknologi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas industri sekaligus menekan biaya produksi.
"Itu spektakuler. Jadi intinya peran besar untuk BBM yang tidak impor lagi itu, devisa bisa dipakai untuk alih teknologi. Akan lebih maju lagi Indonesia kita," katanya.
Selain mengurangi impor energi, pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biodiesel juga dinilai memberikan kepastian pasar bagi petani sawit.
Dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku biodiesel, produk sawit petani memiliki pasar yang lebih terjamin. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat sektor perkebunan.
B50 Perlu Didukung Produktivitas Sawit
Pakar Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, mengatakan industri sawit juga memiliki peran penting dalam penyerapan tenaga kerja.
Menurutnya, semakin besar pemanfaatan sawit dalam industri biodiesel dapat memberikan dampak terhadap keberlangsungan industri dan kesejahteraan pekerja.
Namun, Yayan mengingatkan peningkatan penggunaan biodiesel hingga B50 harus dibarengi dengan penguatan ekosistem pendukung.
Pasalnya, peningkatan komposisi biodiesel akan meningkatkan kebutuhan bahan baku sawit.
Karena itu, produktivitas perkebunan sawit rakyat perlu ditingkatkan. Diversifikasi bahan baku dan penguatan pembiayaan juga dinilai penting agar program B50 dapat berjalan secara berkelanjutan.
"Perbaiki pungutan dan pasang katup pengaman campuran sekarang, diversifikasi ke bahan baku limbah sembari melindungi pangan melalui Harga Eceran Tertinggi alih-alih kuota ekspor, dan mulai menaikkan produktivitas perkebunan rakyat segera," kata Yayan.
Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar B50 tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga tetap dapat ditanggung Indonesia dari sisi fiskal maupun lingkungan.
Dengan demikian, manfaat B50 tidak hanya diukur dari pengurangan impor solar dan penghematan devisa, tetapi juga dari kemampuan Indonesia membangun industri biodiesel yang produktif, berkelanjutan, dan tidak mengganggu kebutuhan pangan. (*)
Editor : Putut Ariyo