batampos – Video komedi dari akun media sosial CEO Sachet belakangan menarik perhatian warganet setelah ditonton lebih dari 2,9 juta kali. Di balik cerita ringan tentang seorang karyawan baru yang salah mengenali sosok CEO, terselip pesan mengenai pentingnya memahami teknologi artificial intelligence (AI) dan automation di dunia kerja.
Dalam video tersebut, seorang karyawan baru tampak berbincang dengan pria berpenampilan sederhana. Ia mengira pria tersebut merupakan anak dari salah satu rekan kerjanya.
Anggapan itu berubah ketika sang karyawan mengetahui bahwa pria yang diajaknya berbincang ternyata merupakan CEO perusahaan tempatnya bekerja.
Situasi tersebut kemudian menjadi bagian dari adegan komedi yang membuat video itu menarik perhatian. Namun, ada hal lain yang turut mencuri perhatian, yakni sebuah buku berjudul “Mahir n8n dalam 8 Jam” yang diberikan sang CEO kepada karyawan baru tersebut.
Buku yang diterbitkan AICO itu membahas AI Agent dan automation. Materinya ditujukan bagi mereka yang ingin mempelajari teknologi tersebut tanpa harus memiliki kemampuan pemrograman atau coding.
Kemunculan buku tersebut sekaligus membawa pesan bahwa pembelajaran AI dan automation dapat dimulai sejak seseorang memasuki dunia kerja.
Belajar Automation Tanpa Coding
Automation memungkinkan pekerjaan yang dilakukan secara berulang dijalankan secara otomatis berdasarkan aturan atau alur tertentu.
Dengan dukungan AI, proses tersebut dapat dibuat lebih fleksibel. Sistem dapat membantu memahami data, menghasilkan respons, hingga menjalankan tugas tertentu berdasarkan instruksi yang diberikan.
Salah satu platform yang dapat digunakan untuk mempelajari automation adalah n8n. Platform ini memungkinkan pengguna membuat workflow otomatis dengan menghubungkan berbagai aplikasi dan layanan melalui antarmuka visual.
Dengan pendekatan tersebut, pengguna tidak selalu harus menulis kode dari awal.
Contohnya, automation dapat digunakan untuk menghubungkan formulir dengan spreadsheet, mengirim notifikasi secara otomatis, mengolah informasi, hingga meneruskan data dari satu layanan ke layanan lainnya.
Bagi pemula, konsep tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana pekerjaan digital dapat dibuat lebih efisien.
Sementara itu, AI Agent memiliki konsep yang lebih luas. Teknologi ini memungkinkan sistem AI tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga membantu menjalankan serangkaian tugas berdasarkan tujuan tertentu.
Dalam penerapannya, AI Agent dapat dihubungkan dengan berbagai tools atau aplikasi untuk membantu menyelesaikan pekerjaan secara otomatis.
Bagi mereka yang belum memahami coding, proses belajar dapat dimulai dari konsep dasar. Tidak perlu langsung mempelajari bahasa pemrograman.
Pemula dapat terlebih dahulu memahami bagaimana sebuah workflow bekerja, menentukan input dan output, serta mempelajari cara berbagai aplikasi saling terhubung.
Viral Tak Sekadar Mengejar Views
Video CEO Sachet tersebut merupakan konten user-generated content (UGC) yang dibuat Zando Agency menggunakan sistem ECHO (Every Content Has an Outcome). Konten tersebut menjadi bagian dari kolaborasi bersama AICO, komunitas AI di Indonesia.
Co-Founder Zando Agency Tommy Teja mengatakan, konsep ECHO dirancang agar konten yang viral tidak berhenti pada jumlah penayangan.
“ECHO kami buat supaya konten viral bisa punya dampak lebih panjang. Ketika video CEO Sachet ramai, kami juga memastikan orang yang penasaran bisa menemukan informasi tentang AICO saat mereka mulai mencari tahu soal buku AI, belajar AI, atau automation,” ujar Tommy.
Menurut dia, perhatian yang muncul setelah sebuah konten viral dapat menjadi peluang untuk mengarahkan audiens menemukan informasi yang lebih relevan dengan rasa penasaran mereka.
Pandangan serupa disampaikan Co-Founder Zando Agency Reynaldi Francois. Menurutnya, jumlah views memang menjadi salah satu ukuran keberhasilan sebuah konten, tetapi dampak setelah audiens menyaksikan konten juga penting.
“Views memang penting, tapi yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah orang menonton. Kalau mereka mulai penasaran, mencari informasi, dan akhirnya mengenal brand, di situlah konten mulai punya dampak yang lebih besar,” jelas Reynaldi.
Dari sisi pembelajaran, kemunculan buku AI dalam video tersebut menunjukkan bahwa edukasi teknologi tidak selalu harus disampaikan melalui materi yang rumit.
Konsep AI dan automation dapat diperkenalkan melalui situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga lebih mudah menarik perhatian orang yang sebelumnya belum memahami teknologi tersebut.
Bagi masyarakat yang ingin mulai mempelajari AI, automation dapat menjadi salah satu kemampuan yang layak dipertimbangkan. Terlebih, banyak aktivitas pekerjaan saat ini melibatkan tugas berulang yang berpotensi disederhanakan dengan bantuan teknologi.
Langkah awal bisa dimulai dengan memahami konsep automation, mencoba membuat workflow sederhana, kemudian mempelajari bagaimana AI dapat diterapkan dalam proses tersebut.
Setelah terbiasa, tingkat kompleksitas workflow dapat ditingkatkan secara bertahap.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran AI dan automation menjadi lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan, termasuk mereka yang tidak memiliki latar belakang sebagai programmer.
Pada akhirnya, kemampuan memanfaatkan teknologi bukan hanya soal mampu membuat kode, tetapi juga memahami persoalan dan menemukan cara yang lebih efisien untuk menyelesaikannya. (*)
Editor : Jamil Qasim