Feri Truk Batam-Johor Ditargetkan Beroperasi 2027, Ini Tantangannya

jpg • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 05:41 WIB
Kapal RoRo sandar di dermaga Pelabuhan ASDP Tanjunguban, Bintan. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos
Kapal RoRo sandar di dermaga Pelabuhan ASDP Tanjunguban, Bintan. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos

batampos – Indonesia menargetkan layanan feri roll-on/roll-off (RoRo) khusus truk dan kargo yang menghubungkan Batam dengan Johor, Malaysia, mulai beroperasi pada pertengahan 2027. Namun, rencana tersebut hingga kini belum mendapat kepastian karena pemerintah Malaysia menyatakan proposal layanan lintas batas itu masih dalam tahap pembahasan.

Kementerian Transportasi Malaysia (MOT) mengatakan sejumlah aspek kebijakan, teknis, operasional, dan regulasi masih perlu diselesaikan sebelum layanan RoRo antara Bintang 99 Persada Port di Batam dan Tanjung Belungkor di Johor dapat direalisasikan.

"At present, the proposal has not yet been finalised, as several policy, technical, operational and regulatory priorities and considerations require further attention," seperti dikatakan kepada The Business Times terkait rencana tersebut.

Rute Batam-Johor itu memiliki jarak sekitar 27 mil laut. Jika terealisasi, layanan RoRo diharapkan dapat mempercepat sekaligus menekan biaya pengiriman barang karena truk dan muatan dapat dipindahkan menggunakan kapal tanpa harus melalui proses bongkar muat berulang.

Skema tersebut dinilai berpotensi mendukung distribusi berbagai jenis komoditas, termasuk produk elektronik, makanan, hingga barang yang membutuhkan rantai dingin (cold chain).

Indonesia Targetkan Operasi Pertengahan 2027

Pembahasan antara pemerintah Indonesia dan Malaysia mengenai rencana tersebut telah berlangsung sejak 11 Maret 2025. Setelah pertemuan itu, MOT mengirimkan surat resmi kepada otoritas Indonesia untuk menyampaikan posisi Malaysia sekaligus meminta tanggapan lebih lanjut.

MOT menyatakan akan terus memfasilitasi pembahasan dan koordinasi dengan pihak terkait apabila terdapat perkembangan lebih lanjut mengenai rencana layanan tersebut.

Di sisi Indonesia, ASDP Indonesia Ferry secara terbuka menargetkan layanan RoRo Batam-Johor dapat dimulai pada pertengahan 2027.

Direktur Operasi dan Transformasi ASDP Indonesia Ferry, Rio Lasse, mengatakan pengoperasian layanan tersebut membutuhkan kerja sama kedua negara, terutama dalam penyelarasan regulasi, kesiapan infrastruktur, serta prosedur lintas batas.

"Tantangan sebenarnya bukan ferinya. Tantangannya adalah menciptakan proses perbatasan di mana barang, truk atau trailer, dan pengemudinya dapat diperiksa dan diselesaikan secara bersamaan," kata Managing Director Trade Facilitation, Jonathan Koh.

Studi BP Batam Nyatakan Layak Secara Finansial

Rencana pengembangan rute Batam-Johor tersebut sebelumnya telah dikaji melalui studi kelayakan yang dipesan BP Batam dan dikerjakan Center for Transportation and Logistics Studies (Pustral) Universitas Gadjah Mada.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa layanan RoRo Batam-Johor secara finansial layak setelah mempertimbangkan aspek pasar, hukum, teknis, operasional, dan keuangan.

Meski demikian, studi itu juga mengidentifikasi sejumlah persoalan yang harus diselesaikan sebelum layanan beroperasi. Beberapa di antaranya mencakup aspek regulasi, operasional, keamanan, serta kesiapan infrastruktur.

BP Batam mengatakan masih berkonsultasi dengan unit yang menangani studi kelayakan tersebut sebelum memberikan tanggapan mengenai asumsi dan perhitungan yang digunakan dalam kajian.

ASDP memperkirakan potensi awal angkutan berada di bawah 50 truk. Jumlah tersebut dapat ditingkatkan secara bertahap seiring pertumbuhan permintaan.

Ketersediaan muatan dari kedua arah juga menjadi faktor penting agar layanan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Presiden Johor-Indonesia Business Chamber, Samuel Tan, mengatakan studi kelayakan memperkirakan masa pengembalian investasi proyek tersebut sekitar tujuh tahun.

Aturan Truk Lintas Negara Jadi Tantangan

Salah satu tantangan terbesar adalah penyelarasan aturan kendaraan antara Indonesia dan Malaysia.

Sebelum truk atau trailer dapat bergerak lintas batas antara Johor dan Batam, kedua negara perlu menyelaraskan sejumlah ketentuan, termasuk batas berat kendaraan, standar keselamatan, asuransi, lisensi pengemudi, hingga tanggung jawab hukum.

Tan menilai aturan mengenai pergerakan kendaraan lintas negara kemungkinan menjadi salah satu persoalan paling kompleks karena melibatkan berbagai sektor, mulai dari transportasi, bea cukai, imigrasi, karantina, penegakan hukum jalan raya, keamanan, hingga tanggung jawab hukum.

Koh menambahkan, kedua negara juga perlu memiliki kesepakatan mengenai pengakuan registrasi kendaraan, surat izin mengemudi, asuransi, serta mekanisme masuk sementara bagi kendaraan asing.

Integrasi sistem kepabeanan dan pelabuhan juga dinilai penting. Dengan sistem yang terhubung, data kargo, perizinan, dan kendaraan dapat diproses sebelum kapal berangkat.

Skema Drop-and-Pull Bisa Jadi Solusi Awal

Salah satu opsi yang dinilai dapat diterapkan adalah skema drop-and-pull. Dalam skema ini, trailer bermuatan diturunkan di satu terminal dan kemudian diambil oleh truk atau tractor head yang terdaftar secara lokal setelah menyeberang.

Model tersebut dapat mengurangi persoalan terkait pengemudi dan kendaraan asing yang harus beroperasi di negara tujuan. Pada saat yang sama, kedua negara dapat menguji prosedur kepabeanan, pemeriksaan kendaraan, asuransi, serta mekanisme penegakan aturan.

Namun, skema ini tidak menghilangkan kewajiban kepabeanan. Setiap barang tetap harus memiliki deklarasi, izin, penilaian risiko, serta pemeriksaan dan proses karantina apabila diperlukan.

Aturan mengenai perpindahan tanggung jawab dan risiko ketika trailer berpindah operator juga perlu disiapkan.

Potensi Layani Industri Batam-Johor

Chief Executive DHL Global Forwarding Singapore, Malaysia and Indonesia, Praveen Gregory, menilai rute RoRo Batam-Johor berpotensi melayani perusahaan manufaktur yang beroperasi di koridor Singapura-Johor-Batam.

Layanan tersebut juga dapat dimanfaatkan pelaku usaha berskala lebih kecil yang membutuhkan pengiriman kargo konsolidasi.

Menurut Gregory, kesiapan regulasi bukan satu-satunya faktor yang menentukan minat perusahaan logistik dan pemilik barang. Efisiensi terbesar justru berpotensi berasal dari pengurangan kompleksitas rantai pasok.

Saat ini, pengiriman barang antara Johor dan Batam dapat melibatkan penanganan tambahan, transshipment, cross-docking, atau bahkan rute melalui Singapura.

Gregory memperkirakan layanan awal dengan perjalanan pulang-pergi setiap hari dan kapasitas sekitar 25-35 truk per pelayaran dapat menjadi titik awal yang layak. Volume tersebut kemudian berpotensi meningkat menjadi sekitar 45-55 truk.

Namun, keseimbangan muatan dari Batam menuju Johor dan sebaliknya tetap diperlukan agar layanan dapat berjalan efisien.

"Pemilik kargo umumnya dapat merencanakan berdasarkan jarak dan biaya. Yang sulit mereka rencanakan adalah ketidakpastian," ujar Gregory.

Singapura Tetap Punya Peran Penting

Kehadiran rute langsung Batam-Johor berpotensi mengalihkan sebagian kargo yang saat ini melalui Singapura, terutama pengiriman yang memang hanya ditujukan dari Johor ke Batam atau sebaliknya.

Meski demikian, Singapura diperkirakan tetap memiliki peran penting sebagai pusat perdagangan dan logistik regional. Perannya mencakup pengadaan, perencanaan rantai pasok, pembiayaan perdagangan, kepatuhan kepabeanan, serta koneksi ke jaringan penerbangan dan pelayaran global.

Gregory menilai perubahan signifikan pada arus kargo belum akan terlihat sebelum layanan RoRo Batam-Johor benar-benar beroperasi dan mampu menunjukkan kinerja yang konsisten serta dapat diandalkan.

Jika terealisasi dan berjalan sukses, konektivitas baru tersebut juga berpotensi mendorong pertumbuhan kebutuhan pergudangan, fasilitas penyimpanan dingin, serta lokasi perpindahan trailer dengan truk lokal di kawasan Johor bagian timur. (*)

Editor : Putut Ariyo
logistik Batam Batam-Johor Feri RoRo bp batam ASDP Indonesia Ferry