Kisah Bonak Chandra, Pengusaha Kerupuk Tanjungpinang yang Ekspor ke Singapura

Antara • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 18:14 WIB
Bonak Chandra dan produk kerupuk Kyria Rezeki yang diproduksi di sentra usaha miliknya di Tanjungpinang dan telah menembus pasar Singapura ANTARA/Ogen 
Bonak Chandra dan produk kerupuk Kyria Rezeki yang diproduksi di sentra usaha miliknya di Tanjungpinang dan telah menembus pasar Singapura ANTARA/Ogen 

batampos – Aroma gurih olahan hasil laut terasa di sudut Jalan Merpati, Kilometer 11, Kecamatan Tanjungpinang Timur. Di tempat itu, Bonak Chandra, 66, menjalankan usaha yang telah dirintisnya selama puluhan tahun.

Dari sebuah usaha sederhana, Bonak berhasil mengolah hasil laut Kepulauan Riau menjadi kerupuk yang kini menembus pasar Singapura.

Perjalanan tersebut tidak dibangun dalam waktu singkat. Kisahnya bermula ketika Bonak berusia 22 tahun dan memutuskan merantau dari Bangka Belitung ke Tanjungpinang pada 1982.

Saat itu, ia mengawali kehidupan dengan bekerja di sebuah kedai kopi di kawasan Kampung Baru. Di tempat tersebut pula Bonak kemudian bertemu dengan perempuan yang kelak menjadi istrinya.

Sebelum membangun usaha di Tanjungpinang, Bonak sempat mencoba peruntungan berjualan kerupuk di Palembang selama sekitar dua tahun bersama adiknya. Namun, persaingan usaha yang cukup ketat membuatnya kembali ke Kota Gurindam.

Pengalaman tersebut justru menjadi modal penting. Pada 1988, Bonak bersama istrinya memberanikan diri memulai usaha kerupuk di Tanjungpinang dengan peralatan seadanya.

Letak Kepulauan Riau yang dikelilingi laut menjadi keuntungan tersendiri. Bonak dapat memperoleh bahan baku ikan dengan relatif mudah, di antaranya ikan tongkol, tenggiri, dan talang.

"Kepri ini daerah laut, jadi cukup mudah mencari ikan dengan harga murah, seperti ikan tongkol, tenggiri dan talang," kata Bonak di Tanjungpinang.

Berawal dari Warung, Kini Produksi Lima Ton per Bulan

Pada tahap awal, kerupuk produksi Bonak dikemas dalam plastik bening berukuran kecil. Produk tersebut dititipkan dari satu warung kelontong ke warung lainnya.

Perlahan, pemasaran berkembang. Kerupuk produksinya mulai masuk ke toko dan swalayan. Seiring permintaan yang meningkat, Bonak merekrut lima pekerja untuk membantu proses produksi dan pengemasan.

Dengan dukungan pinjaman perbankan, ia kemudian membangun sentra produksi sekaligus tempat tinggal di Jalan Merpati.

Puluhan tahun berlalu, usaha yang kini dikenal sebagai Industri Kecil dan Menengah (IKM) tersebut terus berkembang.

Saat ini, Bonak mempekerjakan 22 orang yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga. Kapasitas produksinya mencapai sekitar lima ton per bulan.

Pilihan produknya juga semakin beragam. Selain kerupuk ikan, Kyria Rezeki memproduksi kerupuk udang, cumi, hingga kerupuk gonggong yang menjadi salah satu makanan khas Tanjungpinang.

Produk tersebut dijual dengan harga sekitar Rp2.000 hingga Rp18.000 per kemasan.

Pasarnya tidak lagi sebatas Kepulauan Riau. Produk Kyria Rezeki secara rutin dikirim ke Singapura melalui Batam setiap pekan.

Menjelang perayaan Imlek, permintaan bahkan dapat meningkat hingga mencapai dua kontainer.

Omzet Rp3 Miliar dan Mengantongi Sertifikasi HACCP

Perkembangan bisnis Bonak tidak berhenti di sentra produksi. Ia juga membuka pusat oleh-oleh Pondok Gong-Gong di Jalan Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang.

Usaha tersebut kini mempekerjakan lima orang.

Dalam setahun, keseluruhan usaha Bonak mampu membukukan omzet sekitar Rp3 miliar. Produk yang dihasilkan juga telah mengantongi sertifikasi halal dan sejumlah penghargaan dari pemerintah pusat.

Perjalanan menuju pasar ekspor turut mendapat dukungan Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdagin).

Bantuan yang diberikan antara lain berupa peralatan produksi, seperti alat pemotong kerupuk mentah. Selain itu, pembinaan dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas produk.

Upaya tersebut turut membantu Bonak memperoleh sertifikasi keamanan pangan internasional Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).

"Kami juga pernah dapat bantuan dari Disdagin, misalnya alat pemotong kerupuk mentah," ujar Bonak.

Kepala Bidang Perindustrian Disdagin Kota Tanjungpinang M. Endy Febri mengatakan pihaknya terus mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam pembinaan IKM yang memiliki potensi ekspor.

Menurut dia, kolaborasi dibutuhkan agar pelaku IKM mampu mempertahankan kualitas sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global.

"Kita melibatkan berbagai stakeholder terkait guna memaksimalkan ruang gerak IKM binaan Disdagin Tanjungpinang," kata Endy.

Kemendag Dorong Kerupuk Tanjungpinang Masuk Pasar Global

Keberhasilan Kyria Rezeki menembus pasar Singapura turut menarik perhatian pemerintah pusat.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) bersama Export Centre Batam sebelumnya meninjau langsung sentra produksi kerupuk milik Bonak.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong IKM lokal memperluas pasar ekspor. Targetnya bukan hanya mempertahankan pasar Singapura, tetapi juga membuka peluang menuju negara-negara lain.

Tenaga Teknis Export Centre Batam, Bambang Nugianto, mengatakan produk kerupuk milik Bonak telah didaftarkan ke InaExport, platform business to business (B2B) resmi yang dikelola Ditjen PEN Kemendag.

Platform tersebut menjadi direktori daring yang mempertemukan pemasok atau eksportir Indonesia dengan calon pembeli dari berbagai negara.

Melalui InaExport, pelaku usaha dapat mempromosikan produk sekaligus memperoleh akses yang lebih luas kepada calon pembeli internasional.

Dengan masuk ke platform tersebut, produk Kyria Rezeki berpeluang ditemukan calon pembeli luar negeri yang mencari produk makanan ringan, termasuk kerupuk dan olahan hasil laut.

Calon pembeli juga dapat memperoleh informasi perusahaan dan menghubungi pelaku usaha secara langsung untuk membicarakan pemesanan.

Menurut Bambang, peluang ekspor juga terbuka bagi industri yang sudah memiliki pasar di luar negeri.

"Contohnya, industri sudah punya pangsa pasar ekspor sendiri, tapi tak menutup kemungkinan bisa ditawarkan ke negara lain," ujarnya.

Namun, perluasan pasar ekspor harus dibarengi kesiapan memenuhi persyaratan negara tujuan.

Untuk produk pangan, aspek keamanan, kebersihan, dan kesehatan menjadi bagian penting karena setiap negara memiliki ketentuan tersendiri terhadap produk makanan yang masuk.

Karena itu, Kemendag bersama Export Centre Batam siap mendampingi pelaku IKM dalam memenuhi berbagai persyaratan ekspor.

"Misalnya, pembeli luar negeri butuh sertifikasi keamanan pangan internasional atau SNI, kita bantu UMKM siapkan atau mengarahkan ke pihak-pihak terkait, sehingga memenuhi syarat ekspor," kata Bambang.

Masuk ke Pasar Digital

Selain memperluas pasar ekspor, Bonak juga mulai memanfaatkan perkembangan perdagangan digital.

Ia menggandeng sejumlah pedagang online lokal untuk memasarkan produk Kyria Rezeki melalui salah satu platform e-commerce.

Langkah tersebut membuka jalur pemasaran baru di luar toko, swalayan, dan pusat oleh-oleh.

Hasilnya mulai terlihat. Dalam sehari, puluhan hingga ratusan kemasan kerupuk dapat dipesan melalui kanal daring tersebut.

Sebagian besar pembeli masih berasal dari Pulau Bintan, terutama Tanjungpinang dan Bintan.

Sejumlah konsumen juga memberikan ulasan positif terhadap produk Kyria Rezeki, terutama terkait rasa, kualitas, dan kecepatan pengiriman.

"Rasanya enak. Kualitas baik dan pengirimannya juga cepat," tulis salah seorang pembeli.

Penjualan digital memang belum menjadi sumber utama pemasukan Kyria Rezeki. Namun, bagi Bonak, kanal tersebut menjadi peluang untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen yang lebih luas.

Dari sebuah usaha sederhana yang bermula pada 1988, Bonak kini memiliki produksi lima ton per bulan, mempekerjakan puluhan orang, membukukan omzet miliaran rupiah, dan mengirim produknya hingga ke Singapura.

Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana usaha berbasis potensi lokal dapat berkembang ketika kualitas produk, pembinaan, akses pembiayaan, pemasaran digital, dan peluang ekspor berjalan beriringan.

Bagi Bonak, keberhasilan tersebut bukan sekadar soal omzet. Ada kebanggaan tersendiri ketika produk olahan hasil laut Tanjungpinang mampu menembus pasar luar negeri sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. (*)

 

Editor : Putut Ariyo
tanjungpinang kepulauan riau ekspor kerupuk umkm