Pendapatan Blibli Tembus Rp14,8 Triliun, Toko Fisik Makin Diperluas

jpg • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 12:07 WIB
Ilustrasi persaingan ritel kini tidak hanya mengandalkan transaksi daring, tetapi juga menghubungkan berbagai kanal penjualan untuk menjangkau konsumen. Foto: ai/pegadaian.co.id
Ilustrasi persaingan ritel kini tidak hanya mengandalkan transaksi daring, tetapi juga menghubungkan berbagai kanal penjualan untuk menjangkau konsumen. Foto: ai/pegadaian.co.id

batampos - Persaingan industri ritel semakin bergeser. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan transaksi melalui platform digital, tetapi mulai mengintegrasikan toko fisik dengan berbagai layanan untuk menjangkau konsumen di lebih banyak titik.

Perubahan tersebut terlihat dari kinerja PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli. Pada semester I 2026, pendapatan neto konsolidasian perusahaan mencapai Rp14,8 triliun, tumbuh 55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp9,6 triliun.

Kinerja tersebut melanjutkan pertumbuhan pada 2025. Saat itu, pendapatan neto konsolidasian Blibli mencapai Rp22,4 triliun, naik 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut berlangsung ketika model bisnis ritel semakin mengarah pada integrasi kanal digital dan fisik. Konsumen tidak hanya berinteraksi melalui aplikasi, tetapi juga membutuhkan pengalaman langsung di toko, layanan logistik, hingga berbagai layanan lain dalam satu ekosistem.

Toko Fisik Kembali Jadi Bagian Strategi Ritel

Pertumbuhan perdagangan elektronik tidak serta-merta menghilangkan peran toko fisik. Untuk sejumlah kategori, seperti elektronik, kebutuhan rumah tangga, fesyen, dan bahan pangan, konsumen masih membutuhkan akses langsung terhadap produk.

Toko fisik dapat digunakan untuk melihat atau mencoba produk, memperoleh layanan, mengambil pesanan, maupun memenuhi kebutuhan yang tidak seluruhnya dapat dilakukan melalui perangkat digital.

Karena itu, sejumlah perusahaan yang sebelumnya bertumpu pada kanal digital mulai menggabungkannya dengan jaringan toko fisik. Model tersebut dikenal sebagai omnichannel.

Dalam model omnichannel, toko fisik dan platform digital tidak ditempatkan sebagai dua saluran yang berdiri sendiri. Keduanya diintegrasikan sehingga konsumen dapat berpindah kanal sesuai kebutuhan.

Blibli Perluas Jaringan Toko

Strategi tersebut terlihat dari ekspansi jaringan fisik Blibli. Hingga akhir Juni 2026, perusahaan mengoperasikan 326 toko elektronik konsumen, 14 toko elektronik rumah tangga, serta satu toko fesyen dan olahraga.

Ekosistem tersebut juga mencakup 60 gerai supermarket premium yang dioperasikan Ranch Market dan 38 home and living experience center yang dioperasikan Dekoruma.

Perluasan tersebut memperlihatkan semakin dekatnya hubungan antara perdagangan digital dan ritel konvensional. Kanal digital digunakan untuk menjangkau konsumen secara daring, sementara jaringan fisik menjadi titik interaksi langsung.

Pertumbuhan pendapatan Blibli pada semester I 2026 juga terjadi di berbagai segmen usaha, termasuk ritel 1P dan segmen institusi. Ekspansi jaringan fisik turut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengembangkan ekosistem bisnisnya.

Ekosistem Ritel Tak Lagi Sekadar Belanja Online

Model omnichannel membuat persaingan ritel menjadi semakin kompleks. Perusahaan tidak hanya dituntut menyediakan platform transaksi, tetapi juga mengelola pengalaman konsumen di berbagai titik.

Dalam ekosistem Blibli Tiket, misalnya, kebutuhan konsumen mencakup elektronik, perjalanan, kebutuhan sehari-hari, hingga home and living.

Integrasi tersebut memperluas titik interaksi perusahaan dengan konsumen. Namun, semakin luas ekosistem yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga produktivitas dan mengendalikan biaya operasional.

Hal itu menjadi perhatian Blibli setelah mencatat pertumbuhan pendapatan pada semester I 2026.

“Ke depan, Blibli berkomitmen untuk fokus pada pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas, penguatan margin, disiplin biaya, serta integrasi ekosistem yang semakin erat,” kata Eric Winarta, Chief Corporate Officer & Investor Relations Blibli.

Dengan demikian, pertumbuhan bisnis ritel tidak hanya diukur dari transaksi maupun jumlah pengguna digital. Kemampuan perusahaan mengelola berbagai kanal secara efisien juga menjadi bagian penting dari strategi bisnis.

Blibli Masuk 100 Perusahaan Terbesar Versi Fortune

Perkembangan bisnis tersebut juga tercermin dalam daftar Fortune Indonesia 100 tahun 2026. Blibli berada di posisi 59, naik dari posisi 72 pada tahun sebelumnya.

Pemeringkatan Fortune Indonesia 100 didasarkan pada pendapatan perusahaan. Untuk daftar 2026, batas minimum pendapatan yang digunakan mencapai Rp12,31 triliun berdasarkan tahun buku 2025.

Secara keseluruhan, 100 perusahaan dalam daftar tersebut mencatatkan pendapatan yang setara dengan 26,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sepanjang 2025.

Bagi industri ritel, perkembangan Blibli menunjukkan bahwa kanal digital dan toko fisik semakin terintegrasi. Persaingan tidak lagi semata-mata soal siapa yang memiliki transaksi digital terbesar, tetapi juga bagaimana perusahaan menggabungkan berbagai kanal sambil menjaga efisiensi, margin, dan keberlanjutan pertumbuhan.

“Pencapaian ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat fundamental usaha, menjaga disiplin operasional, serta senantiasa menghadirkan nilai yang relevan dan berkelanjutan bagi pelanggan dan mitra,” ucap Eric. (*)

Editor : Putut Ariyo
Blibli Ritel Omnichannel Bisnis Digital Fortune Indonesia 100