Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dari dalam maupun luar negeri.
“Untuk perdagangan (22/9), mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.840-Rp17.900,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Selasa (22/9).
Menurut Ibrahim, perhatian pasar terhadap Indonesia saat ini tertuju pada kebijakan teknis terkait keputusan pemerintah membentuk bursa komoditas untuk mengendalikan harga.
Kebijakan tersebut selanjutnya akan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk menentukan produk yang diperdagangkan serta tahapan perdagangan melalui aturan tersendiri.
“Beberapa hal yang dipertimbangkan OJK di antaranya adalah kesiapan infrastruktur, stabilitas keuangan, dan integritas pasar,” lanjutnya.
Melalui kebijakan tersebut, OJK juga akan mengambil alih pengaturan bursa tersebut dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mulai 1 Januari tahun depan.
Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga BI
Di sisi lain, pasar juga akan mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi.
Sebagian bank sentral mengambil sikap hawkish, sementara sebagian lainnya masih memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran dengan mempertahankan suku bunga acuan.
“Namun, melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan Gubernur Bank Indonesia dalam rapat hari Rabu akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin,” kata Ibrahim.
Selain kebijakan moneter, pasar kembali mencermati angka defisit anggaran yang berada di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut kerap menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam menilai kondisi fiskal dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN).
Meski berfungsi sebagai batas disiplin fiskal, Ibrahim menilai angka defisit belum menjamin ketahanan ekonomi nasional apabila tidak diimbangi dengan kualitas belanja yang memadai.
Dalam rancangan postur RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara Rp4.097,2 triliun.
Dengan demikian, defisit anggaran diproyeksikan mencapai 2,40 persen terhadap PDB.
“Defisit di bawah tiga persen sering diperlakukan seperti stempel kesehatan fiskal. Angkanya memang penting karena memberi pagar bagi disiplin anggaran. Tetapi pagar bukan rumah,” pungkasnya. (*)
Editor : Cipi Ckandina