Konsumen Indonesia Makin Selektif, Ini Strategi Brand untuk Tetap Tumbuh

jpg • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 11:59 WIB
Ipsos Growth Forum 2026 mengangkat tema “The Real Equation of Growth: Brand Equity in Market Context”. Foto: Istimewa
Ipsos Growth Forum 2026 mengangkat tema “The Real Equation of Growth: Brand Equity in Market Context”. Foto: Istimewa

batampos - Perubahan sentimen konsumen dan meningkatnya kehati-hatian dalam berbelanja membuat pelaku usaha perlu meninjau kembali strategi pertumbuhan brand. Kekuatan merek tidak lagi cukup hanya dibangun melalui persepsi konsumen, tetapi juga perlu didukung kemampuan produk menjawab kondisi pasar.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Ipsos Growth Forum 2026 yang digelar Ipsos Indonesia dengan tema “The Real Equation of Growth: Brand Equity in Market Context”.

Forum tersebut membahas perubahan perilaku konsumen Indonesia serta strategi brand untuk tetap relevan dan menangkap peluang pertumbuhan di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Data Ipsos Global Consumer Confidence Index menunjukkan Consumer Confidence Index Indonesia pada Agustus 2026 berada di angka 53,9. Posisi tersebut menempatkan Indonesia di peringkat kelima dari 30 negara yang diukur, naik dari peringkat ke-10 pada Juli.

Namun, peningkatan peringkat tersebut juga dipengaruhi oleh melemahnya sentimen konsumen di sejumlah negara lain. Karena itu, posisi Indonesia tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa tekanan terhadap konsumen telah berkurang secara menyeluruh.

Konsumen Indonesia masih menghadapi sejumlah pertimbangan dalam mengambil keputusan belanja, mulai dari kondisi keuangan, daya beli, hingga situasi investasi.

Managing Director Ipsos Indonesia Hansal Savla mengatakan perubahan sentimen tersebut perlu menjadi perhatian brand ketika membaca perilaku konsumen.

“Kita melihat konsumen Indonesia yang tetap berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya. Dalam kondisi seperti ini, brand perlu memahami bahwa pertumbuhan tidak hanya berbicara mengenai seberapa kuat sebuah brand di benak konsumen, tetapi juga bagaimana brand dapat hadir dan tetap relevan ketika konsumen membuat keputusan pembelian,” ujar Hansal.

Ipsos memperkirakan konsumen akan tetap berhati-hati dan selektif dalam melakukan pengeluaran hingga akhir tahun. Kondisi tersebut disebut Ipsos sebagai “The New Consumer Reality”.

Meski demikian, perubahan perilaku konsumen tidak berarti brand harus menghentikan upaya membangun desire dan brand equity. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan sebuah brand dapat diterjemahkan menjadi pembelian nyata ketika konsumen mempertimbangkan berbagai faktor sebelum berbelanja.

Country Service Line Group Director – Brand Health Tracking & Creative Assessment Ipsos in Indonesia Lioni Halim mengatakan masih terdapat kesenjangan antara tingkat kesukaan konsumen terhadap sebuah brand dan performa aktualnya di pasar.

“Sering kali terdapat kesenjangan antara preferensi terhadap sebuah brand dengan pangsa pasar yang sebenarnya. Pertumbuhan terjadi ketika brand mampu membangun keinginan konsumen terhadap brand tersebut, sekaligus membuat konsumen lebih mudah untuk membeli melalui faktor-faktor pasar yang tepat,” ujar Lioni.

Menurut Lioni, distribusi dan assortment memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan promosi dan harga dalam mendorong pertumbuhan.

“Brand yang kuat mampu menciptakan keinginan di benak konsumen. Namun, untuk memenangkan pertumbuhan, brand juga perlu memastikan bahwa konsumen dapat dengan mudah menemukan dan membeli produk tersebut. Di sinilah brand equity perlu bertemu dengan konteks pasar,” pungkas Lioni. (*)

 

Editor : Putut Ariyo
Ipsos Indonesia konsumen Indonesia brand equity pertumbuhan brand Strategi bisnis