batampos – Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menargetkan keterlibatan industri komponen dalam negeri dalam rantai pasok kendaraan listrik (EV) mencapai 50–60 persen pada 2030.
Target tersebut sejalan dengan rencana pemerintah meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) secara bertahap hingga minimal 80 persen pada 2030.
Ketua Bidang Promosi dan Public Relations GIAMM Gagat Prijawan mengatakan peningkatan kewajiban TKDN akan mendorong produsen kendaraan menggunakan lebih banyak komponen yang diproduksi di dalam negeri.
Namun, industri komponen masih perlu memperbesar kapasitas untuk masuk lebih jauh ke rantai pasok kendaraan listrik. Menurut Gagat, EV merupakan pasar yang relatif baru bagi sebagian anggota GIAMM.
“Keterlibatan kita paling tidak bisa di angka 50–60 persen pada 2030 untuk EV. Karena sekarang EV ini juga baru bagi kami, jadi anggota GIAMM membuat komponen EV juga belum banyak,” kata Gagat saat ditemui di Tangerang, Kamis (24/9/2026).
Volume Produksi Jadi Kunci
Gagat menilai peningkatan volume produksi kendaraan akan menjadi salah satu faktor penting untuk memperbesar tingkat lokalisasi komponen.
Semakin besar volume produksi, biaya produksi komponen dapat ditekan melalui skala ekonomi. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat produk komponen lokal lebih kompetitif dari sisi harga.
“Kalau volumenya naik, TKDN-nya pasti naik. Lokalisasinya pasti naik,” ujarnya.
Saat ini, keterlibatan anggota GIAMM dalam memasok komponen untuk mobil merek China yang dirakit di Indonesia masih berada di kisaran 10–15 persen.
Menurut Gagat, salah satu kendalanya adalah persaingan harga. Volume produksi yang masih terbatas membuat biaya komponen lokal relatif tinggi karena investasi peralatan harus dibebankan pada jumlah produksi yang kecil.
“Kalau volume kita besar, harga kita juga tidak kalah dengan China,” katanya.
Industri Hulu Perlu Diperkuat
Gagat menilai kemampuan industri komponen dalam negeri untuk memenuhi TKDN 80 persen sebenarnya bukan persoalan utama. Sebab, sejumlah produk lokal sudah mampu mencapai tingkat komponen dalam negeri tersebut.
“Karena sekarang pun juga sudah ada yang 80 persen. Tinggal butuh volumenya saja. Sepeda motor sudah 90 persen ke atas TKDN. Kalau untuk mobil, ada yang sudah 80 persen, ada yang 60 persen,” ujarnya.
Di sisi lain, peningkatan TKDN juga membutuhkan penguatan industri hulu, seperti logam, karet, dan plastik. Ketergantungan terhadap bahan baku impor dinilai masih menjadi salah satu tantangan bagi industri komponen dalam negeri.
Gagat mencontohkan industri baja yang belum seluruhnya mampu memproduksi material dengan spesifikasi yang dibutuhkan sektor otomotif. Salah satu penyebabnya adalah kebutuhan industri otomotif yang belum cukup besar untuk mendorong produksi material tersebut dalam skala ekonomis.
TKDN EV Naik Bertahap
Pemerintah menetapkan peningkatan TKDN kendaraan listrik berbasis baterai secara bertahap. TKDN ditargetkan mencapai 40 persen hingga 2026, naik menjadi 60 persen mulai 2027, dan minimal 80 persen mulai 2030.
Kebijakan tersebut membuat industri komponen dalam negeri memiliki waktu untuk meningkatkan kapasitas, memperluas jenis produk, serta memperkuat rantai pasok dari sektor hulu hingga hilir.
Bagi GIAMM, peningkatan volume produksi menjadi salah satu faktor penting agar industri komponen lokal dapat memenuhi kebutuhan kendaraan listrik sekaligus bersaing dari sisi harga. (*)
Editor : Putut Ariyo