Halal Jadi Gaya Hidup Milenial dan Gen Z, Industri Indonesia Ditantang Berinovasi

jpg • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 10:04 WIB
Mahasiswa didorong berkontribusi dalam pengembangan produk halal melalui riset, prototipe, proyek kampus, dan kolaborasi. Foto: UMS.ac.id
Mahasiswa didorong berkontribusi dalam pengembangan produk halal melalui riset, prototipe, proyek kampus, dan kolaborasi. Foto: UMS.ac.id

batampos - Halal kini tidak lagi sekadar berkaitan dengan kewajiban bagi konsumen Muslim. Di kalangan generasi milenial dan generasi Z, aspek kehalalan mulai menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih produk.

Kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri halal nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong generasi muda mengambil peran sebagai motor inovasi agar produk halal Indonesia memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar global.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Emmy Suryandari mengatakan, pengembangan industri halal tidak cukup hanya dimaknai sebagai pemenuhan sertifikasi.

Menurut dia, aspek halal harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas, keamanan, inovasi, keberlanjutan, dan daya saing produk.

"Halal bukan sekadar baseline compliance. Produk halal juga harus memberikan jaminan keamanan, higienitas, dan kualitas tinggi. Halal dapat menjadi nilai tambah dan meningkatkan daya saing karena menjadi bagian dari value proposition dan branding produk di pasar internasional," ujar Emmy, dilansir Antara.

Karena itu, Kemenperin mendorong mahasiswa mulai berkontribusi melalui riset, pembuatan prototipe, proyek kampus, pengembangan produk sederhana, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak.

Emmy mengatakan, inovasi dapat dimulai dari persoalan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

"Masa depan industri Indonesia tidak cukup hanya kita tunggu. Masa depan itu harus kita bentuk bersama. Mahasiswa tidak harus menunggu suatu hari nanti untuk menjadi bagian dari perubahan. Mulailah dari kampus, dari bidang yang dikuasai, dan dari masalah yang paling dekat dengan kehidupan kita," katanya.

Menurut Emmy, Indonesia membutuhkan kreativitas, energi, gagasan, inovasi, karya, serta keberanian generasi muda untuk mulai menciptakan perubahan.
Halal Jadi Pertimbangan Konsumen Muda

Sekretaris Utama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Muhammad Aqil Irham mengatakan, halal telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup generasi milenial dan generasi Z.

Karena itu, status halal perlu menjadi perhatian pelaku usaha. Selain harga dan kualitas, aspek kehalalan kini menjadi salah satu pertimbangan masyarakat sebelum membeli produk, terutama di kalangan konsumen muda.

"Terutama di kalangan milenial dan generasi Z," tutur Aqil.

Dia menjelaskan, pelaku usaha perlu memahami perubahan preferensi konsumen tersebut. Produk yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar berisiko kehilangan konsumen dan pada akhirnya kesulitan bertahan.

Aqil juga menyambut hasil riset Ihatec Marketing Research mengenai gaya hidup konsumen di sejumlah kota.

"Hasilnya menunjukkan bahwa halal sudah menjadi gaya hidup di kalangan milenial dan generasi Z. Anak-anak muda saat ini dalam memilih produk tidak hanya soal harga dan kualitas," papar Aqil.

"Tetapi juga apakah produk tersebut sudah bersertifikat halal atau belum. Bahkan tren seperti ini tidak hanya muncul di kalangan umat Islam saja," sambungnya.
Sertifikasi Halal dan Kepercayaan Konsumen

Direktur Ihatec Marketing Research Evrin Lutfika mengatakan, riset yang dilakukan pihaknya mengukur bagaimana sebuah merek membangun hubungan yang kuat dan konsisten dengan konsumen.

Menurut dia, kegiatan tahun ini juga menyoroti tantangan baru yang dihadapi merek di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi.

Konsumen kini semakin mudah membandingkan satu produk dengan produk lainnya. Karena itu, kepercayaan konsumen perlu dijaga melalui kualitas produk sekaligus pemenuhan aspek sertifikasi halal.

Salah satu merek yang menerima penghargaan Top Halal Award 2026 adalah Mooochi, produk makanan berbahan dasar mochi.

Brand and Marketing Executive Mooochi Indonesia Gilbert Hanli Lim mengatakan, penghargaan tersebut diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap produk mereka.

Menurut dia, konsumen saat ini semakin mudah mencari dan membandingkan informasi mengenai produk sebelum melakukan pembelian.

"Dampak yang diharapkan, ke depannya kita dapat mengembangkan produk yang konsisten pada halal," kata Gilbert.

Dia berharap capaian tersebut dapat membuka peluang bagi Mooochi untuk memperluas pasar ke sejumlah negara, terutama negara yang memberikan perhatian terhadap aspek kehalalan produk.

Gilbert menjelaskan, mochi merupakan makanan khas Jepang. Dengan adanya label halal, konsumen dapat mengonsumsinya dengan lebih tenang.

Dia juga mengakui bahwa aspek halal tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan, tetapi juga berhubungan dengan perhatian terhadap kesehatan dan keamanan produk yang dikonsumsi masyarakat. (*)

Editor : Putut Ariyo
Kemenperin Sertifikasi Halal industri halal generasi z milenial