batampos – Nilai tukar rupiah diprediksi melemah pada perdagangan pekan terakhir September 2026. Pergerakan rupiah masih dibayangi penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat Ekonomi dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah berpotensi berada di atas level Rp18.000 per dolar AS pada pekan ini.
“Untuk rupiah sendiri, rupiah kemungkinan akan melemah. Melemahnya kemungkinan besar di Rp18.150 sampai Rp18.200-an,” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima JawaPos.com, Minggu (27/9).
Menurut Ibrahim, apabila rupiah mampu menguat, nilai tukarnya berpeluang bergerak di sekitar level Rp17.800 per dolar AS.
Ia menjelaskan, salah satu faktor yang akan memengaruhi pergerakan rupiah adalah indeks dolar AS yang diperkirakan masih melanjutkan penguatan.
Indeks dolar AS diperkirakan bergerak pada kisaran 100,10 hingga 102,20. Ibrahim melihat terdapat indikasi indeks dolar AS masih berpotensi menguat menuju level 102,20.
“Jadi ada indikasi indeks dolar ini masih akan terus menguat menuju level 102,20,” ujarnya.
Selain pergerakan dolar AS, pasar juga mencermati perkembangan konflik Rusia dan Ukraina. Menurut Ibrahim, perang yang telah berlangsung sekitar 4,5 tahun tersebut masih menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi sentimen ekonomi global.
Ia menyebut terdapat peluang digelarnya kembali pertemuan antara Rusia dan Ukraina, dengan Uni Emirat Arab (UEA) menjadi salah satu pihak yang mendorong proses diplomasi.
Rencana tersebut sejalan dengan upaya Amerika Serikat untuk menghidupkan kembali pembicaraan antara Rusia dan Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya mengatakan AS mengusulkan pertemuan trilateral dengan Rusia dan Ukraina, dengan UEA disebut sebagai salah satu lokasi yang memungkinkan.
“Karena kita lihat bahwa perang sporadis yang sudah berjalan 4,5 tahun antara Rusia dan Ukraina ini membuat kondisi perekonomian di Eropa Timur, baik Rusia maupun Ukraina, berantakan total,” kata Ibrahim.(*)
Editor : Cipi Ckandina