Harga Emas Diprediksi Fluktuatif Pekan Ini, Berpotensi Terkoreksi ke Rp2,52 Juta

JawaPos • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 14:45 WIB

 

Ilustrasi emas batangan. (Jawa Pos)
Ilustrasi emas batangan. (Jawa Pos)

batampos – Harga logam mulia diprediksi masih bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan terakhir September 2026. Pergerakan harga emas akan dipengaruhi sentimen pasar global serta permintaan dari bank sentral sejumlah negara.

Pengamat Ekonomi dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan harga logam mulia pada Sabtu pagi berada di level Rp2.653.000 per gram.

Menurut Ibrahim, harga emas masih berpeluang mengalami koreksi pada perdagangan pekan ini. Ia memperkirakan harga logam mulia dapat bergerak dalam rentang Rp2.520.000 hingga Rp2.720.000 per gram.

“Untuk logam mulia, dalam perdagangan pekan depan, kemungkinan besar range-nya itu di Rp2.520.000 per gram sampai di Rp2.720.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima JawaPos.com, Minggu (27/9).

Sementara itu, untuk harga emas dunia, Ibrahim memperkirakan level support berada di sekitar Rp3.948.000, sedangkan level resistance berada di Rp4.654.000 per troy ounce.

Ibrahim mengatakan, penurunan harga emas dunia maupun logam mulia justru dapat menjadi peluang bagi bank sentral global untuk meningkatkan kepemilikan emas.

Menurutnya, bank sentral dapat memanfaatkan harga emas yang relatif lebih rendah untuk melakukan diversifikasi cadangan devisa, dari aset berbasis dolar AS ke emas.

“Karena dengan harga yang relatif lebih murah ini akan diuntungkan dari selisih harga. Nah, di sini kita melihat bahwa yang aktif dalam melakukan pembelian ini adalah salah satunya Bank Sentral Tiongkok,” ujarnya.

Ia menyebut Bank Sentral Tiongkok menjadi salah satu bank sentral yang aktif melakukan pembelian emas sepanjang 2026.

Menurut Ibrahim, Bank Sentral Tiongkok telah melakukan pembelian emas sejak awal 2026 hingga Juli. Sementara itu, data pembelian pada Agustus dan September masih menjadi perhatian pasar.

Ibrahim mengatakan pembelian emas oleh Bank Sentral Tiongkok meningkat pada Agustus. Ia menyebut pembelian tersebut bertambah sekitar 20 ton dibandingkan bulan sebelumnya.

Selain Tiongkok, Bank Sentral Polandia juga disebut menjadi salah satu bank sentral di kawasan Eropa yang cukup aktif menambah kepemilikan emas.

Dengan kondisi tersebut, Ibrahim melihat permintaan emas dari bank sentral global masih berpotensi menjadi penopang harga ketika terjadi koreksi.

Menurutnya, harga emas yang lebih rendah dapat dimanfaatkan bank sentral maupun investor besar untuk meningkatkan pembelian sekaligus melakukan diversifikasi cadangan devisa.

“Permintaan untuk harga emas dunia maupun logam mulia dalam kondisi harga rendah ini dimanfaatkan oleh bank sentral global maupun perusahaan-perusahaan besar untuk melakukan pembelian guna mengganti cadangan devisanya dari dolar ke emas,” pungkasnya.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Diprediksi Berlebih Fluktuatif emas harga