Mercedes-Benz Tertekan, Dua Fasilitas Produksi di Jerman Terancam Ditutup

jpg • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 11:17 WIB
Penampakan interior Mercedes-Benz SLS AMG yang sudah dibekali sistem audio high-end. FOTO: Dinarsa Kurniawan/JawaPos.com
Penampakan interior Mercedes-Benz SLS AMG yang sudah dibekali sistem audio high-end. FOTO: Dinarsa Kurniawan/JawaPos.com

batampos – Mercedes-Benz menghadapi tekanan berat di tengah persaingan industri otomotif global yang semakin ketat. Pabrikan asal Jerman tersebut bahkan menghadapi kemungkinan penutupan dua fasilitas produksinya di dalam negeri jika upaya efisiensi dan pengurangan biaya tidak tercapai.

Carscoops melaporkan pada Senin (28/9), kondisi tersebut menambah tekanan terhadap industri otomotif Jerman yang sebelumnya juga dihadapi Volkswagen. Pabrikan tersebut tengah melakukan penyesuaian terhadap operasional manufakturnya di Jerman di tengah tekanan biaya dan perubahan persaingan global.

Kepala Produksi Mercedes-Benz Michael Schiebe mengatakan perusahaan masih berupaya mempertahankan seluruh fasilitas produksinya di Jerman. Namun, keberlangsungan fasilitas tersebut bergantung pada kemampuan perusahaan meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional.

“Tujuan jelas perusahaan adalah mempertahankan semua lokasi kami di Jerman,” kata Schiebe saat berbicara dengan pekerja di pabrik Sindelfingen.

Meski demikian, Schiebe memperingatkan bahwa jika target efisiensi tidak tercapai, Mercedes-Benz dapat menutup satu pabrik perakitan kendaraan dan satu fasilitas powertrain di Jerman.

Perusahaan kini perlu mencapai kesepakatan baru mengenai pengurangan biaya dengan serikat pekerja IG Metall. Mercedes-Benz juga mendorong perubahan kondisi operasional untuk meningkatkan produktivitas fasilitas manufaktur di Jerman.

Rencana tersebut mendapat penolakan dari IG Metall. Serikat pekerja menilai ancaman penutupan fasilitas bukan merupakan cara untuk menentukan masa depan perusahaan.

IG Metall juga menyatakan siap memberikan perlawanan apabila pekerja ditekan untuk memberikan konsesi dalam proses negosiasi.

Mercedes-Benz sejauh ini belum mengungkap fasilitas mana yang berpotensi ditutup. Perusahaan saat ini mengoperasikan tiga fasilitas perakitan kendaraan dan tujuh pabrik powertrain di Jerman.

Tekanan terhadap Mercedes-Benz tidak hanya berasal dari tingginya biaya produksi di Jerman. Persaingan dengan produsen otomotif China juga semakin memengaruhi peta industri otomotif global.

Sejumlah merek China, seperti BYD, Geely, GAC, dan Changan, memperluas persaingan dengan menawarkan kendaraan yang dinilai lebih kompetitif dari sisi harga dibandingkan sejumlah merek otomotif tradisional Eropa.

Dampaknya terlihat di pasar China. Penjualan Mercedes-Benz pada kuartal kedua dilaporkan turun 30 persen. Perusahaan juga mencatat kerugian sekitar USD 800 juta di pasar tersebut.

Tekanan lainnya datang dari kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat. Mercedes-Benz mencatat kerugian sekitar USD 1,1 miliar akibat tarif AS sepanjang 2025.

Kondisi tersebut membuat tantangan Mercedes-Benz tidak hanya berkaitan dengan penjualan kendaraan. Perusahaan juga menghadapi persoalan efisiensi biaya dan keberlanjutan struktur produksi di Jerman ketika persaingan industri otomotif global mengalami perubahan.

Upaya mempertahankan seluruh fasilitas produksi di Jerman kini bergantung pada hasil negosiasi dengan pekerja serta kemampuan perusahaan mencapai target efisiensi yang ditetapkan. 

(*)

Editor : Putut Ariyo
Mercedes-Benz jerman volkswagen otomotif industri otomotif