Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan dipengaruhi sentimen eksternal maupun domestik.
"Untuk perdagangan (29/9), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.900-Rp17.950," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima Selasa (29/9).
Menurut Ibrahim, sentimen eksternal masih menjadi perhatian pasar, terutama perkembangan hubungan dagang AS dan Tiongkok, arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan harga energi global.
Situasi di Selat Hormuz juga menjadi perhatian setelah delapan anggota Korps Marinir AS dilaporkan terluka akibat serangan rudal jelajah antikapal Iran terhadap kapal yang mereka operasikan di kawasan tersebut.
Laporan NBC News yang mengutip tiga pejabat AS menyebut para Marinir tersebut tidak mengalami luka serius. Mereka dilaporkan mengalami gangguan akibat menghirup asap serta kemungkinan cedera otak traumatis setelah mengalami gejala seperti gegar otak.
"Menambah kekhawatiran terkait pasokan, pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman juga telah meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal komersial di Laut Merah," ujar Ibrahim.
Arab Saudi sebelumnya menyatakan telah mencegat serangan rudal dan drone yang diluncurkan kelompok Houthi. Pada 24 September, Arab Saudi melaporkan mencegat enam rudal balistik yang diarahkan ke Taif dan Yanbu.
Harga Minyak Jadi Tekanan bagi Rupiah
Ibrahim mengatakan harga minyak dunia yang bertahan di atas USD90 per barel meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia. Dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal.
Asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 berada di level USD70 per barel, sedangkan ICP pada Juli telah mencapai USD81,68 per barel.
Menurut Ibrahim, ICP pada kisaran USD80 hingga USD90 per barel masih dapat dikelola apabila kenaikan berlangsung sementara. Namun, tekanan fiskal berpotensi semakin besar jika ICP bertahan di kisaran USD90 hingga USD100 per barel atau lebih selama beberapa bulan.
"Dalam kondisi tersebut, pemerintah memiliki sejumlah opsi, mulai dari menambah subsidi dan kompensasi, melakukan realokasi belanja, hingga menyesuaikan harga energi domestik," ucapnya.
Ia mengatakan, berdasarkan estimasi dalam dokumen fiskal pemerintah, setiap kenaikan ICP sebesar USD1 per barel dapat meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp3,5 triliun hingga Rp4 triliun.
Namun, belanja negara berpotensi meningkat sekitar Rp10,3 triliun sehingga defisit dapat melebar sekitar Rp6,8 triliun. Sebagai negara net oil importer, Indonesia menghadapi tekanan fiskal yang lebih besar apabila kenaikan harga minyak berlangsung dalam waktu lama.
BI Rate Tetap 5,75 Persen
Kondisi perekonomian pada akhir September juga diwarnai tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22-23 September 2026.
"Meski melemah, posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap solid di kisaran USD146,5 miliar diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan yang memadai untuk melakukan stabilisasi nilai tukar," ungkap Ibrahim. (*)
Editor : Cipi Ckandina