batampos – Dewan Energi Nasional (DEN) menyebut ketahanan energi Indonesia masih berada dalam kategori tahan, dengan indeks mencapai 7,13 di tengah gejolak geopolitik global.
Anggota Pemangku Kepentingan DEN Muhammad Kholid Syeirazi mengatakan, ketahanan tersebut menunjukkan Indonesia relatif mampu menghadapi guncangan energi yang terjadi akibat dinamika geopolitik, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah.
"Indonesia termasuk negara yang tahan terhadap goncangan energi, ketika situasi geopolitik terjadi di Timur Tengah," kata Kholid usai menjadi narasumber sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, Rabu (30/9).
Kholid juga menyebut lembaga keuangan JP Morgan menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 52 negara dalam pemeringkatan ketahanan energi global. Namun, angka tersebut disampaikan Kholid dalam pemaparannya.
Menurut dia, salah satu faktor yang menopang ketahanan energi Indonesia adalah ketersediaan sumber daya energi domestik. Batu bara, misalnya, masih menjadi salah satu sumber energi penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik nasional.
Ketergantungan Impor BBM Masih Jadi Tantangan
Meski memiliki sumber daya energi yang melimpah, Kholid mengakui Indonesia masih menghadapi persoalan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dan minyak mentah.
Ia menyebut sekitar 30 persen kebutuhan BBM dan 38 persen minyak mentah Indonesia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu titik kerentanan ketahanan energi nasional apabila pasokan minyak impor mengalami gangguan atau berkurang secara signifikan.
Karena itu, DEN terus mendorong penguatan ketahanan energi melalui optimalisasi sumber daya domestik dan pengembangan kapasitas pengolahan di dalam negeri.
"DEN terus mendorong agenda ketahanan energi melalui swasembada sumber daya yang dimiliki lalu diolah untuk pemenuhan energi nasional, sehingga tidak tergantung lagi dengan impor," ujarnya.
Stok BBM Aman
Kholid mengatakan cadangan operasional BBM dan LPG saat ini masih berada dalam kondisi aman.
"Sesuai mandatory, stok BBM kita bertahan 23 hari, dan LPG 15 hari. Sejauh ini tak ada gangguan stok, BBM masih aman untuk transportasi, demikian pula LPG bagi rumah tangga," katanya.
Ia menjelaskan, kelangkaan BBM yang sempat terjadi di sejumlah SPBU bukan disebabkan terganggunya stok pada depot Pertamina maupun integrated terminal.
Menurut Kholid, kondisi tersebut antara lain dipicu kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mendorong sebagian konsumen beralih ke BBM subsidi.
"Dampaknya, konsumsi BBM subsidi melonjak. Sementara kuota hanya cukup sampai akhir tahun, makanya terjadi kelangkaan di SPBU," ungkapnya.
Dorong Penambahan Kuota BBM Subsidi
Untuk mengantisipasi kelangkaan hingga akhir 2026, Kholid mendorong pemerintah dan DPR merespons kondisi tersebut dengan mempertimbangkan penambahan kuota BBM subsidi.
Menurut dia, langkah tersebut diperlukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi hingga akhir tahun.
Di sisi lain, DEN memastikan ketersediaan BBM di depot Pertamina maupun integrated terminal masih aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dengan kondisi tersebut, tantangan ketahanan energi Indonesia ke depan bukan hanya menjaga ketersediaan pasokan, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap energi impor dan memastikan distribusi BBM tetap berjalan lancar. (*)
Editor : Jamil Qasim