batampos - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026) bergerak menguat 84 poin atau 0,47 persen menjadi Rp17.882 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.966 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan, penguatan rupiah dipengaruhi penurunan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
"Data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Inflasi AS di Bawah Ekspektasi
Mengutip Xinhua, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) utama AS naik 3,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus 2026. Angka tersebut berada di bawah perkiraan konsensus sebesar 3,7 persen.
Sementara itu, indeks harga PCE inti AS yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi naik 3 persen. Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 3,3 persen dan turun dari posisi 3,3 persen pada Juli.
Secara bulanan, PCE inti naik 0,2 persen. Angka tersebut turun 0,1 poin persentase dari bulan sebelumnya dan berada di bawah proyeksi kenaikan 0,3 persen.
Data inflasi yang lebih rendah tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Pasar Pantau Konflik AS-Iran
Di sisi lain, Ibrahim mengatakan pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik AS-Iran. Menurut dia, potensi eskalasi konflik membuat perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi pasokan energi global.
"Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Ibrahim.
Adapun kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat (2/10/2026) juga bergerak menguat ke level Rp17.898 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.937 per dolar AS.(*)
Editor : Cipi Ckandina