Biaya Hidup di Batam makin Berat

Abdul Azis Maulana • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 06:36 WIB
ILUSTRASI kenaikan harga barang-barang, termasuk biaya transportasi. FOTO: chatgpt
ILUSTRASI kenaikan harga barang-barang, termasuk biaya transportasi. FOTO: chatgpt

batampos - Tekanan biaya hidup di Kota Batam kembali menguat. Pada September 2026, inflasi tahunan (year on year/y-on-y) mencapai 3,65 persen. Kenaikan harga terasa pada berbagai kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan pengeluaran masyarakat, mulai dari ongkos transportasi, makanan, hingga kebutuhan perawatan pribadi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 109,67 pada September 2025 menjadi 113,67 pada September 2026. Secara bulanan, harga juga masih bergerak naik dengan inflasi sebesar 0,26 persen.

Kepala BPS Kota Batam, Devi Indriastuti mengatakan, kenaikan harga sepanjang September terjadi pada hampir seluruh kelompok pengeluaran.

“Perkembangan harga berbagai komoditas pada September 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” kata Devi, Jumat (2/10).

Dari sebelas kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tahunan, transportasi menjadi salah satu penyumbang terbesar. Indeks kelompok ini naik 6,17 persen dan memberikan andil 0,83 persen terhadap inflasi tahunan Batam.

Tekanan juga datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 7,95 persen. Sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 5,49 persen.

Artinya, tekanan harga tidak hanya terasa dari kebutuhan yang dibeli untuk dibawa pulang. Biaya mobilitas dan konsumsi masyarakat di luar rumah juga ikut mengerek pengeluaran.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi Batam. Kelompok ini naik 4,19 persen secara tahunan dan memberikan andil 1,22 persen terhadap inflasi.

Sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, angkutan udara, bensin, nasi dengan lauk, daging ayam ras, beras, sigaret kretek mesin (SKM), sewa rumah, tulang sapi, air kemasan, cabai rawit, udang basah, minyak goreng, ikan selar atau ikan tude, sepeda motor, ikan kembung, semangka, serta pelumas atau oli mesin.

Dengan komposisi tersebut, kenaikan harga tidak hanya menekan kebutuhan pangan harian. Biaya bepergian, tempat tinggal, hingga kebutuhan perawatan pribadi juga ikut menyumbang tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga.

Meski demikian, tidak semua harga bergerak naik. BPS mencatat sejumlah komoditas justru memberikan tekanan deflasi, di antaranya cabai merah, bayam, kangkung, buncis, telur ayam ras, bawang merah, wortel, kol putih, cabai hijau, kentang, ketimun, dan bawang putih.

Harga Pangan Masih Bergerak
Pergerakan harga pada September cukup dinamis. Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,91 persen dan memberikan andil 0,27 persen terhadap inflasi bulanan Batam.

Kangkung menjadi salah satu komoditas yang mencatat kenaikan harga dan memberikan andil 0,06 persen. Berikutnya cabai merah 0,04 persen, cabai rawit dan bayam masing-masing 0,03 persen, serta pepaya sebesar 0,02 persen.

Di sisi lain, penurunan harga angkutan udara, emas perhiasan, dan beras menjadi beberapa komoditas yang menahan laju inflasi bulanan.
Secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi Batam hingga September 2026 tercatat 1,79 persen.

Angka inflasi tahunan September 2026 juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun sebelumnya. BPS mencatat inflasi y-on-y Batam pada September 2025 sebesar 2,82 persen, sedangkan September 2024 sebesar 2,76 persen.

Dengan demikian, meski kenaikan harga secara bulanan pada September relatif terbatas, tekanan harga dalam setahun terakhir masih lebih tinggi. Transportasi, pangan, konsumsi di luar rumah, serta kebutuhan pribadi menjadi sejumlah kelompok yang ikut mendorong kenaikan biaya hidup masyarakat Batam.

Di tengah tekanan harga tersebut, aktivitas ekonomi di wilayah Kepri justru masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Kondisi ini terlihat dari perekonomian Kepri yang tumbuh 6,99 persen pada triwulan II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi di Sumatera dan menempatkan Kepri di posisi ketiga secara nasional. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri Rony Widijarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Kepri masih berada pada level tinggi, meski sedikit melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang tumbuh 7,04 persen.

“Pertumbuhan Kepri pada triwulan II 2026 sebesar 6,99 persen. Capaian tersebut merupakan yang tertinggi di regional Sumatera yang secara keseluruhan tumbuh sebesar 5,06 persen dan tertinggi ketiga secara nasional,” kata Rony dalam Laporan Perekonomian Provinsi Kepri Agustus 2026.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Kepri terutama ditopang Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan konsumsi rumah tangga. Sementara dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan, konstruksi, serta perdagangan besar dan eceran menjadi sektor utama yang menopang pertumbuhan.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut berjalan bersamaan dengan tekanan harga yang juga meningkat. Inflasi IHK Kepri pada triwulan II 2026 tercatat 4,67 persen secara tahunan atau year on year (y-on-y). Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada di level 3,23 persen.

Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, transportasi, perawatan pribadi dan jasa lainnya, restoran, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak serta-merta menghilangkan tekanan terhadap pengeluaran masyarakat. Di satu sisi, aktivitas produksi, investasi, dan konsumsi masih bergerak kuat. Di sisi lain, kenaikan harga sejumlah kebutuhan membuat daya beli tetap menjadi perhatian.

Meski demikian, BI memperkirakan inflasi Kepri sepanjang 2026 tetap berada dalam sasaran 2,5 persen dengan toleransi plus-minus 1 persen.

Pengendalian inflasi akan ditopang normalisasi harga pangan, perbaikan rantai pasok, serta penguatan koordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

“Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Rony. (*)

Editor : Putut Ariyo
Ekonomi Kepri Inflasi Batam harga pangan bps batam bank indonesia