batampos - Upaya meningkatkan daya saing produk olahan perikanan di Kelurahan Sidokumpul, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mulai menunjukkan hasil. Sebanyak 15 pelaku UMKM yang tergabung dalam komunitas pengolah bandeng mulai beralih dari pola produksi rumah tangga menuju sistem pengolahan pangan yang lebih modern, higienis, dan berorientasi pada pasar yang lebih luas.
Ketua Komunitas UMKM Bandeng Olahan Sidokumpul, Dinayati Rodliyah, mengatakan penerapan teknologi baru membuat para pelaku usaha lebih percaya diri menerima pesanan dari luar daerah.
“Dulu kami khawatir menerima pesanan dari luar pulau karena takut bandeng basi selama perjalanan. Sekarang kami lebih yakin buat kirim luar daerah dengan teknologi autoklaf dan kemasan baru,” katanya.
Pengembangan usaha tersebut tidak terlepas dari pendampingan Universitas Teknologi Surabaya (UTS) melalui program pengabdian kepada masyarakat yang telah membantu kelompok UMKM tersebut sejak Juli.
Fokus utama program pendampingan adalah mengatasi persoalan daya tahan produk yang selama ini menjadi salah satu hambatan terbesar UMKM bandeng Sidokumpul dalam memperluas pemasaran.
Ketua Tim Pengabdi UTS, Wahyu Fahmi Rizaldy, mengatakan produk seperti bandeng presto dan otak-otak sebelumnya masih diproses menggunakan peralatan rumah tangga. Kondisi tersebut membuat produk relatif cepat mengalami penurunan mutu.
“Produk sebelumnya rata-rata hanya bertahan dua sampai tiga hari pada suhu ruang. Kondisi ini membuat pelaku usaha kesulitan menerima pesanan dari luar daerah karena ada kekhawatiran produk rusak selama perjalanan,” jelas Wahyu kepada JawaPos.com, Selasa (6/10).
Persoalan masa simpan tersebut juga berdampak terhadap potensi kerugian. Tingkat produk yang terbuang atau mengalami kerusakan diperkirakan mencapai 15 persen dari produksi harian.
Karena keterbatasan masa simpan, pemasaran produk selama ini lebih banyak bergantung pada pasar tradisional dengan jangkauan sekitar 15 kilometer dari sentra produksi.
Gunakan Teknologi Autoklaf
Melalui program pendampingan tersebut, para pelaku usaha diperkenalkan dengan mesin autoklaf, vacuum sealer, serta alat pembersih sisik elektrik.
"Penggunaan autoklaf memungkinkan proses sterilisasi dilakukan secara lebih terukur pada suhu 121 derajat Celsius dengan tekanan yang dikendalikan," kata Wahyu.
Menurut dia, penerapan teknologi tersebut memberikan perubahan signifikan terhadap proses produksi. Waktu pengolahan yang sebelumnya mencapai sekitar lima jam dapat dipersingkat menjadi 1,5 jam.
Kapasitas produksi dalam satu siklus juga meningkat dari sekitar 20 kilogram menjadi 60 kilogram. Selain itu, produk dikembangkan menggunakan kemasan retort pouch berbahan aluminium foil untuk mendukung daya tahan dan distribusi produk.
Tidak hanya teknologi produksi, UTS juga memberikan pelatihan mengenai keamanan pangan, kebersihan produksi, legalitas usaha, pemasaran, dan pengelolaan keuangan.
Pelatihan keamanan pangan mencakup penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP), serta penggunaan alat pelindung diri seperti apron, hairnet, dan sarung tangan.
"Para pelaku usaha juga didampingi dalam pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), persiapan sertifikat P-IRT, serta pendaftaran sertifikasi halal melalui program SEHALAL," ujarnya.
Pemasaran Diperluas ke Marketplace
Di bidang pemasaran, peserta mendapatkan pelatihan pembuatan label produk, fotografi menggunakan smartphone, serta pembuatan konten media sosial.
Para pelaku UMKM juga diarahkan memasarkan produk melalui marketplace Shopee dan Tokopedia dengan nama "Bandeng Steril Sidokumpul Official".
Sementara untuk pengelolaan keuangan, pelaku UMKM diperkenalkan dengan aplikasi pencatatan keuangan seperti BukuKas dan BukuWarung. Penggunaan aplikasi tersebut diharapkan membantu pelaku usaha mencatat arus kas secara lebih teratur.
Berdasarkan hasil evaluasi program, pendampingan tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan omzet pelaku UMKM hingga sekitar 60 persen.
Rata-rata omzet yang sebelumnya berada di kisaran Rp9,5 juta per bulan diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp15,2 juta per bulan.
Peningkatan tersebut diharapkan sejalan dengan semakin luasnya jangkauan pemasaran produk bandeng olahan dari Sidokumpul, termasuk peluang pengiriman ke luar daerah dan luar pulau. (*)
Editor : Cipi Ckandina