Indonesia Siapkan PLTN 7 GW, Target Tapak 2026

jpg • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 07:10 WIB
ILUSTRASI pemerintah menargetkan penetapan tapak pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia pada 2026 atau paling lambat 2027 untuk mewujudkan ketahanan energi. FOTO: most1058fm.com
ILUSTRASI pemerintah menargetkan penetapan tapak pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia pada 2026 atau paling lambat 2027 untuk mewujudkan ketahanan energi. FOTO: most1058fm.com

batampos – Indonesia menargetkan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan kapasitas mencapai 7 gigawatt (GW) sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan program pengembangan energi nuklir tersebut masuk dalam target besar pemerintah di sektor energi.

“Indonesia akan memulai program pengembangan nuklir yang sangat ambisius. Yang terakhir saya dengar dari Pak Darmawan (Direktur Utama PT PLN) adalah target 7 GW masuk dalam master plan energi nasional,” ujar Hashim dalam acara Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Selain PLTN, pemerintah juga menargetkan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt peak (GWp).

Menurut Hashim, berbagai target tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya alam Indonesia untuk pengembangan energi baru dan terbarukan.

“Pemerintah harus menyediakan listrik, energi untuk rakyatnya. Sehingga mereka bisa menerangi rumah, sehingga anak-anak bisa belajar pada malam hari, sehingga rumah sakit dan klinik di daerah terpencil teraliri listrik saat mereka membutuhkannya,” kata Hashim.

Tapak PLTN Ditargetkan Ditetapkan 2026

Pemerintah sebelumnya menargetkan penetapan tapak pembangunan PLTN pada 2026 atau paling lambat 2027. Penetapan lokasi tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam rencana pengembangan pembangkit nuklir di Indonesia.

Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi mengatakan lokasi pembangunan PLTN akan mempertimbangkan teknologi yang nantinya dipilih pemerintah.

Menurut Elen, terdapat sejumlah pilihan teknologi sekaligus mitra yang telah menunjukkan minat untuk bekerja sama dengan Indonesia. Negara yang disebut antara lain Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Rusia.

Pemilihan teknologi dan mitra tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi atau tapak PLTN.

Elen menilai pengembangan energi nuklir dapat menjadi salah satu opsi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat. PLTN diharapkan dapat menyediakan pasokan listrik yang cukup, andal, kompetitif, dan berkelanjutan.

Kebutuhan Listrik Nasional Terus Meningkat

Peningkatan kebutuhan listrik menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong pengembangan berbagai sumber energi, termasuk nuklir dan energi terbarukan.

Elen menyebut kebutuhan listrik nasional diproyeksikan mencapai 600 terawatt hour (TWh) pada 2030. Pada periode yang sama, konsumsi listrik diperkirakan mendekati 2.000 kilowatt hour (kWh) per kapita.

Kebutuhan tersebut diperkirakan semakin besar seiring pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi.

Pengembangan PLTN menjadi salah satu bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk menambah kapasitas pembangkit sekaligus mendukung ketahanan energi. Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya untuk memperbesar bauran energi rendah emisi.

Dengan target PLTN hingga 7 GW dan PLTS 100 GWp, pemerintah menempatkan pengembangan energi rendah karbon sebagai salah satu bagian penting dalam perencanaan sistem energi nasional. (*)

Editor : Putut Ariyo
PLTN Nuklir Indonesia Hashim Djojohadikusumo EBT energi