Rupiah Melemah ke Rp17.915 per Dolar AS, Tertekan Ancaman Serangan ke Iran

JawaPos • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 20:15 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (JawaPos)
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (JawaPos)

batampos - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (8/10). Rupiah turun 28 poin atau 0,16 persen menjadi Rp17.915 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.866 per dolar AS.

Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ancaman serangan militer AS terhadap Iran.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah DXY, yield UST dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik oleh ancaman serangan militer AS terhadap Iran," ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Mengutip Sputnik, pemerintah AS dilaporkan meminta Departemen Perang menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November.

Sementara itu, The Atlantic melaporkan, Komando Pusat AS (CENTCOM) sedang menyusun sejumlah rencana tersebut. Namun, belum ada keputusan final mengenai kemungkinan serangan. Pembahasan mengenai cakupan dan tujuan serangan juga masih berlangsung.

Laporan tersebut menyebut langkah itu berkaitan dengan upaya Presiden AS Donald Trump menurunkan harga bensin sekaligus mencapai kemajuan dalam konflik sebelum pemilu paruh waktu.

Kepercayaan Konsumen Ikut Menekan Rupiah

Selain sentimen global, pelemahan rupiah juga dipengaruhi penurunan indeks kepercayaan konsumen Indonesia pada September 2026.

Lukman mengatakan indeks kepercayaan konsumen turun dari 118,5 pada Agustus menjadi 118,1 pada September.

"Data yang menunjukkan penurunan pada indeks kepercayaan konsumen Indonesia dari 118,5 ke 118,1 ikut membebani rupiah," katanya.

Di sisi lain, pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau UST, serta harga minyak dunia menjadi perhatian pelaku pasar. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah karena berpotensi memperbesar kebutuhan impor energi.

Bank Indonesia juga mencatat posisi rupiah dan indikator pasar valuta asing tetap menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia dalam berita tersebut disebut bergerak melemah ke level Rp17.890 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.880 per dolar AS. (*)

Editor : Cipi Ckandina
rupiah melemah dolar AS Rp17.915 Ancaman Serangan