IHSG Anjlok 115 Poin ke 6.031, Ekspektasi Bunga The Fed Jadi Sorotan

JawaPos • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 21:10 WIB
Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (JawaPos)
Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (JawaPos)

batampos - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (8/10) ditutup melemah 115,44 poin atau 1,88 persen ke posisi 6.031,28. Pelemahan dipicu meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada akhir 2026.

Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga turun 12,08 poin atau 1,99 persen ke posisi 593,64.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, pelemahan IHSG sejalan dengan bursa regional Asia. Pasar mencermati risalah rapat The Fed yang menunjukkan mayoritas pejabat memperkirakan masih ada satu kali kenaikan suku bunga pada 2026 untuk menjaga inflasi yang berada di atas target 2 persen.

“Sebagian besar pembuat kebijakan The Fed menilai bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan akan tepat pada akhir tahun,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Meski demikian, keputusan kebijakan moneter selanjutnya tetap bergantung pada data ekonomi yang masuk, prospek perekonomian, serta keseimbangan risiko.

Menurut Nico, kondisi tersebut menunjukkan era suku bunga tinggi pada 2026 belum sepenuhnya berakhir. Bank sentral masih berhati-hati terhadap risiko inflasi yang dapat kembali meningkat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak.

“Kondisi tersebut tentunya menambah volatilitas pasar,” ujarnya.

Risiko Geopolitik Tekan Pasar

Harga minyak turut menjadi perhatian investor di tengah kekhawatiran potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta risiko gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi. Pasar juga mencermati laporan mengenai permintaan pemerintahan Presiden Donald Trump kepada Pentagon untuk menyiapkan opsi serangan terhadap Iran.

Risiko terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga masih menjadi perhatian, meskipun aliran minyak dari Timur Tengah diperkirakan telah pulih ke tingkat sebelum perang.

“Ini bertentangan dengan harapan umum bahwa Presiden Donald Trump akan menahan diri dari meningkatkan ketegangan dengan Teheran menjelang pemilihan November 2026,” kata Nico.

IHSG dibuka melemah dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, indeks kembali bergerak di teritori negatif hingga perdagangan berakhir.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sejumlah sektor mengalami pelemahan. Sektor energi menjadi yang turun paling dalam, yakni 2,76 persen, diikuti sektor infrastruktur 2,70 persen dan sektor industri 2,27 persen.

Sementara itu, sektor kesehatan menguat 1,15 persen dan sektor lainnya tercatat menguat 0,56 persen.

Saham yang mengalami penguatan terbesar antara lain ARII, PEVE, SAFE, MCAS, dan BLTA. Sedangkan saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni SEMA, TRIN, WMUU, ENAK, dan MBSS.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1,93 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 57,24 miliar lembar senilai Rp12,60 triliun.

Sebanyak 187 saham menguat, 518 saham melemah, dan 258 saham tidak bergerak.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei melemah 1,13 persen ke level 69.244,00, Shanghai turun 0,79 persen menjadi 3.811,90, Kospi melemah 2,62 persen ke 6.625,93, Hang Seng turun 1,43 persen ke 23.785,79, dan Strait Times melemah 3,46 persen ke 5.414,17. (*)

Editor : Cipi Ckandina
Anjlok Ekspektasi ihsg the fed