batampos – Miliarder Elon Musk menyebut perusahaan antariksa miliknya, SpaceX, berpotensi memiliki nilai perusahaan berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan total nilai perekonomian global saat ini.
Pernyataan itu disampaikan Musk melalui unggahan di platform X, Jumat. Ia mengakui klaim tersebut terdengar sulit dipercaya, tetapi mengaku melihat peluang bagi SpaceX untuk mencapai nilai sebesar itu.
“Ini akan terdengar sangat gila, tetapi saya melihat jalan bagi SpaceX untuk memiliki nilai berkali-kali lipat lebih besar dari ekonomi Bumi saat ini,” tulis Musk.
Meski melontarkan proyeksi ambisius tersebut, Musk tidak menjelaskan lebih lanjut strategi, mekanisme, maupun tahapan yang memungkinkan SpaceX mencapai valuasi tersebut.
Saat ini, nilai SpaceX diperkirakan mencapai sekitar 2,2 triliun dolar AS atau setara Rp39.250 triliun. Sebagai pembanding, Bank Dunia mencatat produk domestik bruto (PDB) global pada 2025 berada di kisaran 118 triliun dolar AS.
SpaceX didirikan Musk pada 2002 sebagai perusahaan manufaktur kedirgantaraan dan penyedia layanan transportasi antariksa swasta. Perusahaan ini dibangun dengan misi menekan biaya peluncuran ke luar angkasa serta membuka jalan bagi kemungkinan kolonisasi Mars.
Berbasis di Hawthorne, California, Amerika Serikat, SpaceX dikenal melalui pengembangan roket yang dapat digunakan kembali, seperti Falcon 9 dan Falcon Heavy. Teknologi tersebut menjadi bagian penting dari upaya perusahaan menekan biaya peluncuran.
SpaceX juga mengembangkan wahana antariksa Dragon yang digunakan untuk mengangkut kargo dan astronaut ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Selain itu, perusahaan tersebut mengoperasikan Starlink, layanan internet berbasis satelit yang menjangkau berbagai wilayah di dunia. SpaceX juga mengembangkan Starship, sistem roket generasi baru yang dirancang untuk mendukung misi antariksa, mulai dari perjalanan ke Bulan hingga Mars.
Meski memiliki portofolio teknologi dan bisnis antariksa yang luas, pernyataan Musk mengenai potensi valuasi SpaceX yang melampaui perekonomian global masih berupa proyeksi. Ia belum memaparkan dasar perhitungan maupun kerangka waktu untuk mewujudkan target tersebut. (*)
Editor : Jamil Qasim