Amazon Operasikan 1 Juta Robot, Perekrutan Pekerja Terancam Berkurang

jpg • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 13:03 WIB
Robot bergerak beroda mengangkut rak-rak tinggi berisi barang di dalam pusat distribusi Amazon. Foto:Times of India
Robot bergerak beroda mengangkut rak-rak tinggi berisi barang di dalam pusat distribusi Amazon. Foto:Times of India

batampos - Amazon terus memperluas otomatisasi gudang dengan mengoperasikan lebih dari satu juta robot untuk mendukung pengiriman puluhan juta paket pada hari yang sama atau keesokan harinya. Ekspansi ini memperlihatkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) dan robotika mengubah industri e-commerce, mulai dari produktivitas hingga kebutuhan tenaga kerja dan keselamatan pekerja.

Dilansir dari Ars Technica, Senin (12/10), Amazon masih mempekerjakan lebih dari 1,5 juta orang secara penuh waktu maupun paruh waktu berdasarkan laporan tahunan 2025. Namun, laporan The New York Times mengungkap dokumen internal yang memperkirakan otomatisasi dapat mengurangi kebutuhan perekrutan Amazon di Amerika Serikat lebih dari 160.000 orang hingga 2027 dan 600.000 orang hingga 2033.

Angka tersebut merujuk pada potensi perekrutan yang dapat dihindari, bukan jumlah pekerja yang dipastikan akan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).


Amazon Kembangkan Robot dan AI untuk Gudang

Sejak mengakuisisi Kiva Systems pada 2012, Amazon terus mengembangkan teknologi robotik untuk mempercepat operasional gudang. Teknologi tersebut mencakup robot bergerak yang membawa rak barang menuju pekerja, lengan robot untuk memilah paket, serta sistem kecerdasan buatan DeepFleet yang membantu mengatur pergerakan robot agar lebih efisien.

Amazon juga mengembangkan sistem Sequoia yang diklaim mampu mempercepat identifikasi dan penyimpanan barang hingga 75 persen. Untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut, perusahaan membangun fasilitas produksi robot tambahan di Austin, Texas, dan Greenwood, Indiana.

Kemampuan robot Amazon turut berkembang melalui pembelajaran mesin dan model AI yang memungkinkan perangkat mengenali berbagai jenis produk. Salah satunya adalah Vulcan, robot yang dilengkapi sensor umpan balik gaya sehingga dapat mendeteksi tekanan ketika mengambil atau menyimpan barang.

Wakil Presiden Amazon Robotics, Scott Dresser, mengatakan pengembangan teknologi tersebut membutuhkan penyelesaian berbagai tantangan teknis.

”Setiap tahap menangani tantangan teknis yang sulit atau kompleks untuk mencapai tujuan tersebut,” ujarnya, merujuk pada upaya membantu pekerja sekaligus meningkatkan layanan bagi pelanggan.


Otomatisasi Berpotensi Menekan Perekrutan

Amazon menyatakan otomatisasi dapat mengurangi pekerjaan fisik berisiko sekaligus membuka peluang karier di bidang teknis. Menurut perusahaan, pusat distribusi yang menggunakan robot canggih umumnya membutuhkan 30 persen lebih banyak tenaga kerja untuk fungsi keandalan, pemeliharaan, dan rekayasa.

Amazon juga menyebut jumlah teknisi pemeliharaan robot meningkat lebih dari 30 persen.

”Itu merupakan pekerjaan dengan keterampilan lebih tinggi dan kompensasi lebih besar,” kata Dresser.

Meski demikian, potensi peningkatan pekerjaan teknis tersebut perlu dilihat bersama perubahan kebutuhan tenaga kerja secara keseluruhan. Dokumen internal yang diberitakan The New York Times memperkirakan penggunaan otomatisasi dapat mengurangi kebutuhan perekrutan baru di Amerika Serikat dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan demikian, pertumbuhan pekerjaan di bidang teknologi tidak serta-merta berarti jumlah perekrutan di seluruh bagian operasional akan tetap sama. Perubahan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan pekerja untuk beralih ke pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan berbeda.
Robot Gudang dan Risiko Keselamatan Pekerja

Di balik peningkatan produktivitas, otomatisasi gudang juga memunculkan persoalan keselamatan kerja. Strategic Organizing Center, koalisi serikat pekerja di Amerika Serikat, melaporkan tingkat cedera yang lebih tinggi di gudang Amazon yang menggunakan robot berdasarkan data periode 2017–2020.

Direktur Riset Strategis organisasi tersebut, Joan Moriarty, menilai Amazon terlalu berfokus pada kecepatan dan penghematan biaya. Menurutnya, penggunaan robot dapat membuat pekerja dituntut bergerak cepat dan melakukan aktivitas berulang sehingga meningkatkan risiko cedera.

Namun, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ILR Review pada April 2025 memberikan gambaran yang lebih beragam. Penelitian tersebut menemukan gudang robotik mencatat penurunan cedera berat sebesar 40 persen dibandingkan pusat distribusi lama. Pada saat yang sama, cedera yang lebih ringan akibat ketegangan fisik meningkat 77 persen.

Brian Greenwood, profesor bisnis di George Mason University sekaligus salah satu penulis penelitian, menjelaskan bahwa kecepatan mesin dapat memengaruhi ritme kerja manusia.

”Robot memiliki kemampuan menentukan kecepatan kerja,” katanya.

Tekanan untuk mengikuti ritme mesin, menurut penelitian tersebut, dapat memicu ketegangan otot dan keseleo. Temuan itu menunjukkan bahwa pengurangan beban fisik tidak selalu berarti seluruh risiko pekerjaan ikut menurun.

Penelitian yang sama juga menemukan pekerjaan di gudang robotik dapat mengurangi beban fisik, tetapi meningkatkan kelelahan mental akibat aktivitas berulang dan tempo kerja yang lebih cepat.


Amazon Klaim Angka Cedera Terus Menurun

Amazon membantah laporan yang dinilainya menggunakan data lama dan tidak mencerminkan perkembangan teknologi serta upaya keselamatan terbaru.

Juru bicara perusahaan mengatakan tingkat insiden di lingkungan kerja Amazon telah menurun dalam beberapa tahun terakhir.

”Sejak 2019, tingkat insiden yang tercatat secara global telah membaik 43 persen, sedangkan tingkat insiden yang menyebabkan pekerja harus meninggalkan pekerjaan telah membaik 70 persen,” ujarnya.

Perusahaan menegaskan peningkatan keselamatan berlangsung bersamaan dengan ekspansi penggunaan robot. Meski demikian, perbandingan data keselamatan perlu mempertimbangkan periode pengukuran, definisi insiden, dan jenis fasilitas yang diteliti.

Greenwood mengingatkan bahwa otomatisasi saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan kondisi kerja.

”Membangun hubungan yang lebih baik antara manajemen dan pekerja biasanya merupakan jalan terbaik untuk mencari cara mengurangi angka cedera,” katanya.

Perkembangan otomatisasi Amazon memperlihatkan bahwa keberhasilan teknologi tidak cukup diukur dari jumlah robot, kecepatan pemrosesan paket, atau efisiensi biaya. Perubahan tersebut juga perlu dinilai dari dampaknya terhadap kesempatan kerja, kualitas pekerjaan, serta keselamatan fisik dan mental para pekerja.

Amazon menyatakan ekspansi bisnisnya telah menciptakan ratusan ribu pekerjaan. Namun, perkiraan internal mengenai berkurangnya kebutuhan perekrutan menunjukkan bahwa otomatisasi berpotensi mengubah struktur tenaga kerja dalam jangka panjang.

Tantangan bagi perusahaan adalah memastikan peningkatan produktivitas berjalan seiring dengan perlindungan pekerja dan tersedianya peluang untuk mengembangkan keterampilan baru. (*)

Editor : Putut Ariyo
Robotika Otomatisasi Gudang amazon kecerdasan buatan tenaga kerja