Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Sentimen Pemicunya

JawaPos • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 13:10 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta. (Jawa Pos)
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta. (Jawa Pos)

batampos – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan kembali melemah pada perdagangan Jumat (16/10). Sebelumnya, rupiah ditutup melemah 35 poin ke level Rp 17.938 per dolar AS pada perdagangan Kamis (15/10).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan domestik.

"Untuk perdagangan (16/10), mata uang rupiah fluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp 17.930–Rp 18.990," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Jumat (16/10).

Dari sisi eksternal, salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat pada September. Inflasi bulanan AS tercatat sebesar 0,6 persen, sesuai ekspektasi dan meningkat dibandingkan kenaikan 0,4 persen pada Agustus.

Sementara itu, inflasi tahunan AS naik menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen. Angka tersebut melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6 persen.

Inflasi inti, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi, juga meningkat 0,3 persen secara bulanan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebesar 0,2 persen dan sama dengan laju pada Agustus.

Secara tahunan, inflasi inti naik menjadi 2,6 persen dari 2,4 persen. Capaian tersebut juga melampaui perkiraan pasar sebesar 2,5 persen.

Ibrahim menjelaskan, kenaikan harga bensin, solar, dan pangan menjadi pendorong inflasi utama. Sementara itu, inflasi inti dipengaruhi peningkatan biaya tempat tinggal, sewa setara pemilik (owner-equivalent rent), rekreasi, dan pendidikan, serta lonjakan harga mobil dan truk bekas.

"Fokus pasar hari ini adalah rilis Indeks Harga Produsen (PPI), data penjualan ritel, klaim awal tunjangan pengangguran, serta sejumlah pidato lanjutan dari pejabat The Fed," ujarnya.

Sentimen Domestik Turut Membayangi Rupiah

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi pasar saham Indonesia menjelang evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026.

Bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets diperkirakan hanya sekitar 0,43 persen pada akhir September. Investor juga mencermati risiko penurunan klasifikasi pasar, kelanjutan pembekuan saham, serta perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.

Menurut Ibrahim, keputusan terkait klasifikasi pasar Indonesia akan bergantung pada bukti bahwa reformasi pasar modal berjalan efektif.

"Keputusan ini akan bergantung pada bukti bahwa reformasi pasar modal Indonesia berjalan efektif," ujarnya.

Selain dinamika pasar modal, implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran juga menjadi sorotan.

Pelaksanaan kedua program tersebut dinilai belum memberikan hasil yang memuaskan. Di sisi lain, biaya dan risiko implementasinya dikhawatirkan semakin membebani keuangan negara.

Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga pengelola program MBG, bersama pihak terkait lainnya, juga disorot karena belum memublikasikan data kepada masyarakat mengenai dampak program tersebut terhadap penurunan angka stunting, yang menjadi salah satu tujuan utamanya.

"Alih-alih membuktikan melalui penelitian sendiri, pemerintah memilih meminjam penelitian-penelitian lain untuk meyakinkan bahwa skema memberikan makan gratis mampu menurunkan angka stunting. Pemerintah mungkin kesulitan melakukan evaluasi terhadap gizi anak-anak yang mengonsumsi MBG. Namun, pada saat bersamaan, terdapat biaya dan risiko yang harus dibayar mahal," pungkasnya.(*)

Editor : Cipi Ckandina
dolar AS Berpotensi Rp 18.000 rupiah