batampos – Serangan siber mengguncang jaringan supermarket di Prancis. Peretas berhasil mengacaukan sistem pendingin makanan hingga suhunya melonjak mencapai 50 derajat Celsius. Akibatnya, sejumlah bahan pangan rusak dan harus dimusnahkan. Insiden tersebut juga dilaporkan memicu kebakaran di beberapa gerai.
Serangan yang menyasar sistem pendingin terhubung internet itu disebut sebagai salah satu insiden siber paling serius yang pernah dialami sektor ritel pangan di Prancis.
Dilansir dari The Guardian, Kantor Jaksa Paris mengungkapkan serangan terjadi pada Senin (12/10) dan menyasar sistem pendingin sejumlah jaringan supermarket besar di berbagai wilayah Prancis.
Pemerintah Prancis langsung turun tangan. Perdana Menteri Sebastien Lecornu menginstruksikan Badan Keamanan Siber Nasional Prancis (ANSSI) melakukan penyelidikan menyeluruh.
Pemerintah juga berkoordinasi dengan sejumlah negara Eropa untuk memastikan apakah serangan tersebut meluas ke jaringan supermarket di luar Prancis.
Salah satu perusahaan yang terdampak paling besar adalah Les Mousquetaires, pemilik jaringan supermarket Intermarche.
Perusahaan itu melaporkan sekitar 150 gerainya mengalami gangguan sistem pendingin. Bahkan, suhu lemari pendingin di sejumlah lokasi sempat mencapai 50 derajat Celsius selama enam jam.
Kondisi tersebut membuat produk makanan yang membutuhkan suhu rendah tidak lagi aman dikonsumsi. Seluruh bahan pangan yang berisiko kemudian dibuang untuk mencegah gangguan kesehatan konsumen.
Jaringan supermarket Cooperative U juga mengonfirmasi menjadi sasaran serangan.
CEO Cooperative U, Dominique Schelcher, menyebut serangan terhadap sistem pendingin sebagai ancaman serius karena menyangkut keamanan pangan dan kelangsungan distribusi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, gangguan dengan skala seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.
Sejumlah jaringan ritel besar lainnya, seperti Carrefour, Monoprix, Auchan, dan E Leclerc, turut dimintai keterangan terkait insiden tersebut.
Pada jaringan E Leclerc, peretas dilaporkan mampu mengaktifkan proses pencairan es secara paksa dari jarak jauh. Manipulasi sistem tersebut menyebabkan suhu pendingin tidak terkendali.
Gangguan Meluas ke Belanda dan Belgia
Gangguan pada sistem ritel juga dilaporkan terjadi di Belanda dan Belgia.
Perusahaan ritel Ahold Delhaize mengonfirmasi sedang menangani persoalan keamanan jaringan dan menonaktifkan sejumlah sistem sebagai langkah pencegahan.
Meski gerai Albert Heijn tetap beroperasi, sejumlah layanan digital mengalami gangguan.
Aplikasi belanja daring dan layanan pengiriman tidak berjalan normal. Bahkan, label harga elektronik di beberapa gerai menampilkan informasi yang tidak sesuai.
Namun, hingga kini belum dapat dipastikan apakah gangguan di Belanda dan Belgia memiliki keterkaitan langsung dengan serangan terhadap supermarket di Prancis.
Sistem Perangkat Lunak Jadi Sorotan
Penyelidikan awal mengarah pada dugaan kerentanan perangkat lunak yang digunakan untuk mengendalikan sistem pendingin.
Sumber yang dekat dengan Perdana Menteri Prancis menyebut ANSSI menemukan celah keamanan pada perangkat lunak yang dipasok perusahaan asal Denmark, Danfoss.
Perusahaan tersebut mengakui adanya insiden yang memengaruhi sejumlah sistem manajemen pendingin.
Menurut Danfoss, perangkat yang terdampak masih menggunakan firmware atau perangkat lunak pengendali versi lama.
Danfoss menyatakan telah lama mengingatkan pelanggan agar memperbarui sistem dan mengganti perangkat lama dengan teknologi generasi terbaru yang memiliki perlindungan keamanan lebih baik.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa serangan siber tidak hanya mengancam data dan layanan digital, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap operasional fasilitas fisik, keamanan pangan, hingga keselamatan masyarakat.
Insiden ini sekaligus meningkatkan kekhawatiran pemerintah Eropa terhadap kerentanan infrastruktur penting yang terhubung dengan jaringan internet.
Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memerintahkan penguatan sistem perlindungan infrastruktur strategis dari ancaman serangan siber dan serangan hibrida yang dikaitkan dengan Rusia.
Meski demikian, belum ada keterangan resmi yang menghubungkan serangan terhadap supermarket tersebut dengan negara atau kelompok tertentu.
Pemerintah Prancis masih menyelidiki pelaku, metode serangan, serta kemungkinan dampaknya terhadap jaringan ritel dan infrastruktur penting lainnya di Eropa. (*)