batampos – Harga minyak mentah dunia kompak melemah pada perdagangan Senin (19/10) pagi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan telah menyepakati ekspor solar dari Rusia. Keputusan tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Mengutip Investing pada pukul 07.30 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 1,59 poin atau 1,45 persen ke level USD 108,13 per barel. Namun, harga tersebut masih lebih tinggi dibandingkan posisi pada Jumat (16/10) pagi sebesar USD 105,35 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,40 poin atau 1,41 persen ke level USD 97,63 per barel. Angka ini juga masih berada di atas harga pada Jumat (16/10) pagi yang tercatat sebesar USD 97,28 per barel.
Melansir Bloomberg, harga minyak turun dari level tertinggi dalam lima bulan terakhir seiring pelaku pasar kembali mencermati eskalasi konflik di Timur Tengah serta indikasi bahwa pasokan minyak dari kawasan tersebut masih bertahan mendekati level sebelum perang.
Trump mengatakan telah mencapai kesepakatan terkait ekspor solar dengan Rusia. AS juga menunda penerapan sanksi tambahan demi mempertahankan perundingan damai dengan Ukraina.
Namun, kesepakatan tersebut menuai kritik. Sejumlah anggota parlemen AS pada Jumat mengajukan rancangan undang-undang untuk memblokir kesepakatan itu. Beberapa anggota Partai Republik juga menyampaikan keberatan.
Di tengah perkembangan tersebut, Rusia dan Ukraina masih saling melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi.
Ketegangan juga meningkat di Timur Tengah. Sebuah helikopter Arab Saudi dilaporkan jatuh di dekat perbatasan Yaman. Kelompok Houthi turut menyerang Yanbu, salah satu pusat ekspor penting, sementara badan operasi maritim Inggris melaporkan dua kapal tanker terkena serangan di Teluk Persia.
Meski demikian, pasokan energi dari kawasan tersebut tampaknya masih dapat mengalir. AS menyatakan pada akhir pekan bahwa pasukannya membantu mengawal pengiriman lebih dari 100 juta barel minyak melalui Selat Hormuz selama sepekan sebelumnya.
Di sisi lain, pasar fisik masih menunjukkan kondisi pasokan yang ketat. Harga produk olahan, termasuk solar, bahkan mengalami kenaikan lebih tajam. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan inflasi dan membebani perekonomian global.
Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan peningkatan serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal-kapal telah mengikis harapan terhadap pemulihan aliran minyak yang berkelanjutan.
“Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan gangguan yang berlangsung lebih lama, dengan risiko harga yang cenderung mengarah ke kenaikan,” ujar Jorge.(*)
Editor : Cipi Ckandina